Poin Penting
- Saham big banks seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI masih berpeluang menguat pada semester II 2026, tetapi secara selektif dan bertahap
- Pertumbuhan kredit 12,67 persen yoy, stabilisasi NIM, penurunan CoC, serta rendahnya NPL menjadi katalis positif bagi fundamental perbankan
- Potensi easing BI, stabilitas rupiah, dan kembalinya investor asing menjadi faktor penting yang dapat mendorong rerating saham big banks.
Jakarta – Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menilai saham perbankan jumbo masih memiliki peluang menguat pada semester II 2026. Namun, penguatan diperkirakan berlangsung selektif dan bertahap, bukan dalam bentuk rally secara serentak.
Dari sisi fundamental, sektor perbankan masih cukup solid. Pertumbuhan kredit pada Juni 2026 mencapai 12,67 persen secara tahunan (yoy), meningkat dari 11,51 persen pada Mei 2026. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,21 persen yoy.
Menurut Nafan, saham BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI masih memiliki ruang penguatan karena valuasi sejumlah big banks relatif lebih atraktif setelah mengalami tekanan cukup signifikan sebelumnya.
Meski demikian, katalis fundamental perlu semakin kuat agar penguatan saham big banks mendorong rerating valuation, bukan sekadar technical rebound.
Baca juga: Mirae Asset Ramal MSCI Kembali Buka Rebalancing Saham RI Tahun Depan
“Saya melihat BBCA dan BMRI relatif lebih defensif dari sisi kualitas aset, funding structure, dan profitability, sementara BBRI dan BBNI memiliki sensitivitas lebih besar terhadap pemulihan ekonomi, peningkatan permintaan kredit, serta normalisasi credit cost,” ucap Nafan kepada Infobanknews di Jakarta, 18 Agustus 2026.
Nafan menambahkan, kinerja fundamental big banks hingga pertengahan 2026 masih tangguh. Pertumbuhan kredit secara tahunan berada di kisaran double digit 10 persen-11 persen, sementara margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) mulai menunjukkan stabilisasi.
Normalisasi pencadangan pada segmen mikro/UMKM, khususnya BBRI, serta penurunan Cost of Credit (CoC) secara gradual juga menjadi katalis positif bagi perolehan laba.
Di sisi lain, beberapa bank besar sempat mengalami koreksi teknikal sehingga valuasi Price to Book Value (P/BV) berada di bawah rata-rata historis. Kondisi tersebut menjadi daya tarik bagi investor jangka panjang untuk melakukan bargain hunting.
Salah satu katalis utama pada semester II 2026 berasal dari kebijakan Bank Indonesia (BI), yang saat ini mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen.
“Sehingga setiap indikasi ruang easing lebih lanjut akan positif bagi sektor perbankan melalui penurunan cost of fund, perbaikan NIM, dan peningkatan demand kredit,” imbuhnya.
Selain itu, pertumbuhan kredit yang telah mencapai 12,67 persen yoy pada Juni 2026 perlu dipertahankan hingga akhir tahun, khususnya pada kredit investasi dan modal kerja.
Investor juga membutuhkan bukti bahwa akselerasi kredit tidak diikuti tekanan terhadap margin maupun kenaikan biaya pencadangan. Jika NIM terus stabil dan CoC menurun, prospek laba perbankan akan semakin positif.
Dari sisi kualitas aset, NPL industri masih rendah, yakni sekitar 2,17 persen bruto pada Mei 2026. Jika kualitas aset tetap terjaga di tengah akselerasi kredit, kepercayaan pasar terhadap keberlanjutan laba big banks akan semakin kuat.
Baca juga: Prabowo: OJK Lakukan Reformasi Terbesar dalam Sejarah Bursa Saham RI
Katalis lainnya adalah kembalinya foreign fund inflow ke pasar Indonesia. Big banks menjadi salah satu proxy utama investor asing terhadap pasar domestik.
Jika isu terkait MSCI dan FTSE, transparansi pasar, stabilitas rupiah, serta persepsi terhadap sovereign risk membaik, potensi re-entry investor asing ke BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI akan semakin besar.
Terakhir, stabilitas rupiah dinilai dapat memberikan ruang lebih besar bagi BI untuk menjalankan kebijakan yang pro-growth. BI saat ini juga terus menekankan stabilitas rupiah sembari menjaga likuiditas perbankan dan mendorong pertumbuhan kredit. (*)
Editor: Galih Pratama


