Batara Sianturi: Bahasa Hati Global Banker

Batara Sianturi: Bahasa Hati Global Banker

Batara Sianturi: Bahasa Hati Global Banker
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Dia bankir Indonesia pertama yang dipercaya masuk jajaran country head. Bankir dengan empat disiplin ilmu berbeda yang diraihnya dengan pujian. Darto Wiryosukarto

MENIKMATI afternoon tea time di ketinggian 26,60 meter, dengan pemandangan Senayan Golf Driving Range dan kepadatan lalu lintas sore di Jalan Sudirman, Jakarta, mungkin hal biasa. Menjadi luar biasa ketika semua itu dinikmati bersama Batara Paruhum Sianturi, Citi Country Officer & Country Head for Citi Indonesia. Dan, pada sore yang hangat di Citibank Tower 7th Sudirman, Jumat, 20 November 2015, Infobank mendapat kesempatan istimewa itu.

Batara bukan bankir biasa. Dia bankir Indonesia pertama yang menjadi country head dalam sejarah Citigroup. Bukan sembarang bank, melainkan big bank group dengan aset US$1.843 miliar yang berdiri sejak 1812 di New York City dan tersebar di lebih dari 700 kota besar di 101 negara. Selama lebih kurang dua jam, banyak value yang di-share Batara dari perjalanan karier globalnya selama 27 tahun di Citibank Group.

Pria kelahiran Jakarta, 16 Juni 1960, ini memulai perjalanan kariernya sebagai global banker setelah ditunjuk menjadi general manager di Citibank Australia pada 1995. Saat itu dia sudah tujuh tahun berkarier di Citibank Indonesia dengan jabatan terakhir chief financial officer (CFO) di consumer banking. Hanya satu tahun sembilan bulan Batara bertugas di Negeri Kanguru itu. Menjelang akhir 1996, ia kembali ke Indonesia.

Hampir 10 tahun Batara menapaki karier di Citibank Indonesia sepulangnya dari Australia. Beberapa jabatan pernah diembannya, mulai dari retail branch director pada 1997 hingga marketing director pada 2005. Sebagai Citibanker, Batara dididik menjadi bankir dengan orientasi global. Makanya, dia mencoba untuk menjajal di negara lain.

Awalnya Batara ingin mencoba kawasan Asia, tapi pada tahun itu belum ada posisi yang cocok. “Saya kemudian minta izin untuk nyebrang ke region lain,” ujarnya kepada Karnoto Mohamad, Darto Wiryosukarto, Pujo Wibowo, dan Erman Subekti (fotografer) dari Infobank, pada November 2015.

Citibank Hungaria menjadi tempat berlabuh Batara di tahun 2005, dan dua tahun kemudian Batara ditunjuk sebagai Citi country officer & country head. “It’s my first Country Head position,” tegasnya. Tak hanya membawahkan Hungaria, Batara juga meng-handle kantor Citibank di 12 negara lain yang masih di kawasan Eropa Timur, yakni Serbia, Montenegro, Bosnia, Makedonia, Albania, Kroasia, Slovenia, Estonia, Lituania, Latvia, Belarus, dan Moldova.

Setelah delapan tahun di Citibank Hungaria, Batara hijrah ke Citibank Filipina pada 2013. Meski hanya meng-handle satu negara, secara skala ekonomi, jumlah nasabah, dan tanggung jawab lebih besar. “Seingat saya, di Hungaria PDB/GDP-nya US$130 miliar, Filipina US$275 miliar. Lebih besar di Filipina dan lebih kompleks bisnisnya,” ungkap suami Debbie dan ayah Naomi, Joshua, dan Samuel ini.

Pada pertengahan 2015 Batara mendapat kepercayaan untuk mengendalikan Citibank Indonesia, persis pada pengujung tahun dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ini merupakan kepercayaan besar dari shareholder Citibank. Sebab, pada MEA nanti Indonesia akan menjadi pasar utama dengan besarnya potensi market yang ada. Tak sekadar market, challenge yang harus dihadapi Citibank dan bank lain pun makin besar.

Challenge lebih besar karena Indonesia is a big country and one the biggest countries in ASEAN. Tentu pergulatannya akan lebih seru. After ten years working abroad, now it’s time for me to contribute back to my country and I’ll do my very best to give the most impact in Indonesia. Pengalaman saya 12 tahun sebagai global banker dapat saya manfaatkan untuk kebaikan dan kemajuan industri perbankan tanah air. Hal-hal yang bagus dari luar Indonesia bisa di-adopt di sini, sebaliknya apa yang baik di Indonesia juga banyak yang bisa diekspor untuk kolega saya di Eropa Timur,” papar pria bertubuh atletis yang menjaga kebugaran tubuhnya dengan rutin berolahraga lari ini.

Bagi Batara, mengukir karier tak semudah membalik telapak tangan. Beruntung, Batara memiliki disiplin tinggi dan ketekunan luar biasa. Dalam hal pendidikan, misalnya. Batara menyelesaikan dua disiplin ilmu yang berbeda dan dua-duanya lulus dengan pujian di Case Western Reserve University, Cleveland. Ia mengambil program Bachelor of Science-Chemical Engineering dan Bachelor of Science-Polymer Science. Batara masuk pada September 1979 dan lulus per Mei 1983.

Saat mengambil program master of engineering-chemical di Stevens Institute of Technology, Hoboken, NJ, USA (1983-1984), dan program M.B.A. di St. John’s University, New York, USA (1986-1988), Batara juga lulus dengan pujian. Sementara, program doktoral program chemical engineering dia sempat ikuti di Polytechnic Institute of New York, New York, USA (1985-1986). Selain itu, Batara mengikuti pendidikan singkat di Stanford University (1980), Harvard University (1981), dan Columbia University (1982).

Sejak awal, Batara sebetulnya bercita-cita menjadi chemical engineer. Dari sembilan tahun belajar di Amerika, tujuh tahun di antaranya untuk mempelajari chemical engineering. Namun, pada dua tahun terakhir dia belajar finance. “That’s what I learned while pursuing M.B.A., and I like banking until now,” akunya.

Pilihan Batara berkarier di dunia perbankan tak salah. Di industri ini kariernya melesat bak anak panah. Apa yang menjadi pegangan Batara dalam berkarier? “Do your best, because when you do your  best, people will recognize and appreciate it. And then be passionate. You should have  passion. Orang bilang, kenapa Anda sudah jam lima, jam enam, masih happy saja bekerja. Because, I love my job,  I’m very passionate about it,” tuturnya.

Ada satu hal yang menarik dari sosok Batara, yakni caranya dalam berkomunikasi dengan orang lain. Saat di Hungaria, misalnya, dia menyisihkan waktunya yang padat untuk kursus bahasa setempat. Pun saat di Filipina, dia meluangkan waktu dua jam pada setiap Sabtu untuk belajar bahasa Tagalog. Hal itu ia lakukan agar bisa berkomunikasi dengan masyarakat setempat. Dengan menguasai bahasa setempat, dia bisa mendapatkan hal lebih.

By learning the language, you understand the culture, you win the heart of your people, and you become a better leader. There is a saying that one needs to touch the heart before one asks for a hand. Seseorang harus menyentuh hati dahulu baru kemudian meminta bantuan. Yang penting kan hati,” ujarnya. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]