Jakarta – Para pejabat Federal Reserve (The Fed) telah menyetujui bahwa kenaikan suku bunga yang lebih rendah harus diwujudkan secepatnya. Kesepakatan di The Fed ini juga adalah hasil evaluasi dari dampak kebijakan kenaikan suku bunga sangat tinggi terhadap perekonomian selama ini, seperti tertulis dalam rilis pertemuan The Fed, Rabu, 23 November 2022, dikutip dari CNBC.
Pihak market sendiri mengharapkan Federal Open Market Committee untuk menurunkan penetapan suku bunga acuan ke 0,5 basis poin di Desember, setelah mereka menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75 basis poin dalam empat kali berturut-turut.
“Mayoritas partisipan menyatakan bahwa penurunan kenaikan suku bunga akan dapat diakomodasi secepatnya,” tulis laporan pertemuan itu.
“Perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat dampak dari kebijakan moneter terhadap aktivitas perekonomian merupakan salah satu alasan kenapa kebijakan penurunan laju kenaikan suku bunga perlu diambil,” tulisnya lagi.
Ringkasan laporan itu mencatat bahwa beberapa anggota The Fed mengindikasikan perlambatan laju kenaikan suku bunga acuan bisa mengurangi risiko instabilitas pada sistem finansial. Kebijakan untuk mengurangi laju kenaikan suku bunga acuan ini sekaligus menjadi momen bagi The Fed untuk mengevaluasi kembali dampak peningkatan suku bunga selama ini.
Keputusan penetapan suku bunga acuan The Fed selanjutnya dijadwalkan tanggal 14 Desember. (*) Steven Widjaja
Poin Penting OJK menunjuk Bank Kalsel sebagai Bank Devisa sejak 31 Desember 2025 dengan masa… Read More
Poin Penting Presiden Prabowo mendorong riset kampus berorientasi hilirisasi dan industri nasional untuk meningkatkan pendapatan… Read More
PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadirkan… Read More
Poin Penting Pengawasan OJK disorot DPR karena platform Dana Syariah Indonesia (DSI) masih dapat diakses… Read More
UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More
Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More