Poin Penting
- Laba bersih Bank Kalteng naik 7,31 persen yoy menjadi Rp219,41 miliar, didorong kenaikan pendapatan bunga bersih dan efisiensi operasional
- Kredit tumbuh 12,30 persen menjadi Rp12,43 triliun, dengan kualitas aset membaik seiring NPL gross turun ke 2,40 persen
- CASA dan CAR menguat, masing-masing naik menjadi 83,46 persen dan 42,99 persen, meski DPK turun 9,07 persen.
Jakarta – Laba bersih Bank Kalteng menunjukkan kinerja yang bagus pada semester pertama 2026. Hingga Juni 2026, bank yang dipimpin oleh Maslipansyah sebagai direktur utama itu membukukan laba bersih Rp219,41 miliar, naik 7,31 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan Rp204,47 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba disokong oleh perbaikan pendapatan bunga bersih dan efisiensi biaya dana yang semakin baik.
Kenaikan laba tidak lepas dari membaiknya bisnis inti (core business) Bank Kalteng. Mengutip laporan publikasi Bank Kalteng pada Selasa (28/7), pendapatan bunga naik 1,77 persen menjadi Rp812,26 miliar, sementara beban bunga turun 13,21 persen menjadi Rp186,48 miliar. Kombinasi itu membuat ruang keuntungan dari aktivitas intermediasi bank ini semakin lebar.
Perbaikan itu tercermin pada pendapatan bunga bersih yang meningkat 7,29 persen menjadi Rp625,78 miliar dari Rp583,27 miliar pada Juni 2025. Sementara, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) naik tipis dari 6,76 persen menjadi 6,77 persen. NIM yang tetap tinggi menunjukkan bisnis penyaluran dana Bank Kalteng masih berjalan efisien dan mampu menghasilkan keuntungan yang lebih baik.

Dari sisi biaya, beban operasional lainnya naik 5,41 persen menjadi Rp348,55 miliar. Kenaikan beban operasional belum mengganggu profitabilitas karena efisiensi tetap terjaga. Hal itu terlihat dari rasio BOPO yang turun dari 70,80 persen menjadi 68,84 persen, menandakan kemampuan bank mengendalikan biaya operasional semakin baik.
Pada fungsi intermediasi, penyaluran kredit Bank Kalteng tampil solid. Hingga Juni 2026, kredit tumbuh 12,30 persen menjadi Rp12,43 triliun, sedikit lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang sebesar 12,1 persen menurut Bank Indonesia (BI). Ini menunjukkan ekspansi pembiayaan Bank Kalteng masih mampu bersaing dengan rata-rata industri.
Bukan hanya tumbuh, kualitas kredit juga semakin membaik. Rasio NPL gross turun dari 2,90 persen menjadi 2,40 persen, sedangkan NPL net membaik dari 1,65 persen menjadi 1,09 persen. Kedua rasio itu masih jauh di bawah batas aman regulator sebesar 5 persen, sehingga risiko kredit tetap terkendali dan kualitas aset produktif terjaga.
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) Bank Kalteng memang turun 9,07 persen menjadi Rp12,29 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan deposito yang merosot 47,14 persen menjadi Rp2,03 triliun. Tapi, kondisi itu diimbangi oleh pertumbuhan dana murah yang cukup kuat, dengan giro naik 0,28 persen, tabungan melonjak 17,99 persen, sehingga total dana murah meningkat 6,07 persen menjadi Rp10,26 triliun dan rasio CASA naik dari 71,55 persen menjadi 83,46 persen. Struktur pendanaan seperti ini membuat biaya dana (cost of fund) Bank Kalteng menjadi lebih efisien.
Sementara itu, total aset Bank Kalteng turun tipis 0,64 persen menjadi Rp19,35 triliun. Meski aset sedikit menyusut akibat penurunan DPK, modal inti justru meningkat 6,98 persen menjadi Rp3,67 triliun. Rasio kecukupan modal (CAR) juga naik dari 39,75 persen menjadi 42,99 persen. Hal ini mencerminkan permodalan Bank Kalteng yang sangat kuat untuk menopang ekspansi bisnis ke depan.
Baca juga: Fitch Naikkan Peringkat Bank Kalteng Menjadi A+ dengan Outlook Stabil
Rasio keuangan lainnya juga memperlihatkan kinerja yang relatif positif. ROA naik dari 2,65 persen menjadi 2,85 persen, menunjukkan bank ini makin efisien dalam memanfaatkan aset untuk menghasilkan laba. Meski ROE turun tipis dari 12,26 persen menjadi 11,67 persen, level itu masih mencerminkan kemampuan menghasilkan keuntungan dari modal yang cukup baik.
Adapun CIR membaik dari 54,27 persen menjadi 53,43 persen, menandakan efisiensi biaya semakin meningkat. Satu catatan yang perlu diperhatikan adalah LDR Bank Kalteng yang naik menjadi 101,17 persen, melampaui kisaran ideal 78-92 persen, sehingga likuiditas perlu terus dijaga agar tetap sehat seiring pertumbuhan kredit yang agresif. (*) Ari Nugroho


