Perbankan

Bank Kalsel Raup Laba Rp121,12 Miliar per Maret 2025, Tumbuh 21,24 Persen

Jakarta – Kinerja laba Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan (Bank Kalsel) moncer di kuartal I – 2025. Laba bersih bank ini per Maret 2025 tercatat sebesar Rp121,12 miliar, tumbuh 21,24 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp99,89 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan pubikasi, dikutip Jumat, 9 Mei 2025, pertumbuhan laba Bank Kalsel terjadi meskipun pendapatan bunga mengalami penurunan 1,80 persen menjadi Rp621,99 miliar. Namun, efisiensi pada sisi beban bunga yang turun signifikan sebesar 17 persen menjadi Rp253,49 miliar berkontribusi besar terhadap peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 12,37 persen menjadi Rp368,50 miliar.

Peningkatan pendapatan bunga bersih tersebut menjadi salah satu motor utama pertumbuhan laba Bank Kalsel, mencerminkan pengelolaan aset produktif yang semakin efektif, tercermin dari meningkatnya net interest margin (NIM) dari 5,40 persen menjadi 5,55 persen.

Baca juga: Laba Bank BRK Syariah Tumbuh 26,33 Persen di Kuartal I 2025, Ini Faktor Pendukungnya

Di sisi lain, beban operasional lainnya juga naik sebesar 15,14 persen menjadi Rp157,70 miliar. Meski begitu, efisiensi operasional tetap membaik, ditunjukkan oleh rasio BOPO (biaya operasional terhadap pendapatan operasional) yang turun dari 79,47 persen menjadi 75,82 persen. Penurunan rasio BOPO ini mengindikasikan bahwa bank yang dipimpin Fachrudin sebagai direktur utama ini semakin efisien dalam menjalankan aktivitas operasionalnya.

Kinerja fungsi intermediasi menunjukkan dinamika tersendiri. Dana pihak ketiga (DPK) Bank Kalsel tumbuh solid sebesar 15,86 peren secara tahunan menjadi Rp21,50 triliun, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan industri perbankan yang tercatat hanya 4,75 persen per Maret 2025.

Pertumbuhan DPK ini didorong oleh peningkatan simpanan dalam bentuk tabungan yang naik 20,70 persen serta deposito yang melesat 27,55 persen. Sementara itu, dana murah (giro dan tabungan) tumbuh 11,75 persen menjadi Rp15,34 triliun.

Di sisi penyaluran kredit, Bank Kalsel mencatatkan sedikit penurunan sebesar 0,65 persen menjadi Rp14,40 triliun. Penurunan ini terjadi terutama pada kredit konvensional yang turun 0,95 persen menjadi Rp12,04 triliun, sementara pembiayaan syariah masih tumbuh tipis 0,89 persen menjadi Rp2,36 triliun.

Meskipun secara total kredit mengalami sedikit kontraksi, kualitas kredit Bank Kalsel justru membaik. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross menurun dari 4,26 persen menjadi 3,47 persen, jauh di bawah batas aman yang ditetapkan regulator sebesar 5 persen. Namun, NPL net sedikit meningkat dari 1,01 persen menjadi 1,09 persen, masih dalam ambang wajar dan mencerminkan manajemen risiko yang relatif terjaga.

Aset Bank Kalsel juga menunjukkan pertumbuhan yang sehat. Total aset meningkat 13,97 persen secara tahunan menjadi Rp28,42 triliun. Kenaikan aset ini turut ditopang oleh pertumbuhan modal inti yang naik signifikan 20,44 persen menjadi Rp3,49 triliun.

Dengan penguatan modal tersebut, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) meningkat dari 25,52 persen menjadi 28,99 persen, memperkuat kapasitas Bank Kalsel dalam menghadapi risiko dan mendukung ekspansi bisnis ke depan.

Baca juga: Bank BPD Bali Cetak Laba Rp329,06 Miliar di Kuartal I 2025, Tumbuh 21,63 Persen

Beberapa rasio keuangan lainnya juga menunjukkan kinerja yang beragam. Return on assets (ROA) meningkat dari 2,05 persen menjadi 2,26 persen, menunjukkan bahwa Bank Kalsel semakin efisien dalam memanfaatkan asetnya untuk menghasilkan keuntungan.

Sebaliknya, Return on equity (ROE) sedikit menurun dari 14,44 persen menjadi 13,50 persen, yang dapat disebabkan oleh pertumbuhan modal yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan laba. Sementara itu, loan to deposit ratio (LDR) menurun dari 78,11 persen menjadi 66,98 persen, menandakan likuiditas yang lebih longgar namun juga memberi ruang lebih besar untuk ekspansi kredit di masa mendatang.

Kinerja Bank Kalsel pada kuartal I 2025 menunjukkan pertumbuhan laba yang solid, efisiensi operasional yang meningkat, serta penguatan struktur permodalan dan kualitas aset yang membaik, meskipun di tengah penurunan tipis penyaluran kredit. Hal ini memberikan landasan yang kuat bagi bank ini untuk melanjutkan pertumbuhan yang berkelanjutan di 2025. (*) Ari Nugroho

Galih Pratama

Recent Posts

Ini Plus Minus Implementasi Demutualisasi BEI

Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More

6 hours ago

DPR Soroti Konten Sensasional Jadi Pintu Masuk Judi Online

Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More

6 hours ago

Program Gentengisasi Prabowo, Menkeu Purbaya Proyeksi Anggaran Tak Sampai Rp1 T

Poin Penting Menkeu Purbaya memproyeksikan anggaran program gentengisasi sekitar Rp1 triliun, bersumber dari dana cadangan… Read More

8 hours ago

Fundamental Kokoh, Bank BPD Bali Catatkan Pertumbuhan Positif dan Rasio Keuangan Sehat

Poin Penting Bank BPD Bali mencatat laba bersih Rp1,10 triliun (tumbuh 25,39 persen yoy), aset… Read More

8 hours ago

Demutualization of the IDX, a “Bloodless” Coup Three OJK Commissioner Resign Honourably

By: Eko B. Supriyanto, Editor-in-Chief of Infobank Three commissioners of the Financial Services Authority (OJK)… Read More

8 hours ago

Danantara Dukung Reformasi Pasar Modal dan Kebijakan Free Float OJK, Ini Alasannya

Poin Penting Danantara menyatakan dukungan penuh terhadap reformasi pasar modal yang digulirkan OJK, termasuk kebijakan… Read More

9 hours ago