Poin Penting
- Bank Jatim mencetak laba bersih Rp1,61 triliun pada 2025, naik 24,80 persen yoy, ditopang struktur pendanaan solid dan kualitas aset yang membaik.
- Total aset Bank Jatim naik 42,93 persen menjadi Rp168,85 triliun, sementara kredit konsolidasi tumbuh 46,65 persen menjadi Rp110,5 triliun, dengan kredit konsumer masih mendominasi.
- Penguatan dana murah melalui ekosistem dan transaction banking mendorong giro naik 12,5 persen; di sisi lain, bank menjaga kualitas aset lewat hapus buku dan restrukturisasi kredit.
Jakarta — PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk atau Bank Jatim mencatatkan laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp1,61 triliun sepanjang 2025. Angka ini tumbuh 24,80 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan Rp1,29 triliun pada periode sebelumnya.
Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, mengatakan pertumbuhan laba ditopang oleh struktur pendanaan yang kuat serta perbaikan kualitas aset.
“Kinerja ini didukung oleh struktur funding yang solid dan kualitas aset yang semakin membaik,” ujarnya, dikutip Selasa, 31 Maret 2026.
Baca juga: Meski Kinerja Solid, Aher Ingatkan Hal Ini ke Bank Jatim
Aset dan Kredit Melonjak
Secara konsolidasi, total aset Bank Jatim tercatat mencapai Rp168,85 triliun atau melonjak 42,93 persen yoy. Sementara itu, penyaluran kredit konsolidasi tumbuh signifikan sebesar 46,65 persen dari Rp75,35 triliun menjadi Rp110,503 triliun.
Adapun pada level bank only, kredit yang disalurkan sepanjang 2025 mencapai Rp67,2 triliun, naik 4,98 persen yoy.
Dari sisi komposisi, kredit konsumer masih mendominasi dengan nilai Rp36,54 triliun atau tumbuh 6,20 persen yoy. Sedangkan kredit produktif tercatat sebesar Rp30,7 triliun, meningkat 3,55 persen yoy.
Fokus Dana Murah dan Ekosistem
Winardi menjelaskan, sepanjang 2025 manajemen berfokus pada penguatan dana murah melalui pendekatan transaction banking dan pengembangan ekosistem bisnis.
Strategi tersebut tercermin dari pertumbuhan dana giro yang mencapai Rp21,4 triliun atau naik 12,5 persen yoy. Selain itu, jumlah nasabah juga meningkat 5,64 persen secara tahunan.
“Fokus kami adalah penetrasi dana murah berbasis ekosistem untuk meningkatkan jumlah dana dan nasabah,” katanya.
Dari sisi penyaluran kredit, Bank Jatim menerapkan strategi yang lebih selektif dengan menyasar sektor-sektor prospektif. Di saat yang sama, perseroan tetap memperdalam bisnis kredit konsumer.
Manajemen juga menjaga efisiensi operasional serta mendorong peningkatan transaksi digital guna memperkuat pendapatan berbasis komisi (fee based income).
Selain itu, pengendalian kualitas aset dilakukan secara ketat agar tetap sesuai dengan risk appetite bank.
Baca juga: Hasil RUPSLB Bank Banten, Sahkan Bank Jatim Jadi Induk KUB Bank Banten
Perbaikan Kualitas Aset
Dalam upaya menjaga kualitas portofolio, Bank Jatim melakukan hapus buku kredit sebesar Rp1,03 triliun dengan recovery rate 18,6 persen atau setara Rp192 miliar.
Selain itu, perseroan juga melakukan restrukturisasi kredit sebagai langkah penyelamatan debitur, dengan total kredit restrukturisasi mencapai Rp4,17 triliun.
Di sisi lain, Bank Jatim juga melanjutkan transformasi melalui pembentukan Kelompok Usaha Bank (KUB). Sepanjang 2025, perseroan resmi menjadi induk bagi lima bank pembangunan daerah.
Kelima BPD tersebut antara lain Bank NTB Syariah, Bank Banten, Bank Lampung, Bank Sultra, dan Bank NTT. Dengan struktur tersebut, sinergi permodalan telah berjalan penuh pada 2025.
“Untuk di tahun 2026 ini kami akan memaksimalkan sinergi di bidang bisnis dan keuangan serta aspek support lainnya sebagai enabler,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama










