Jakarta – Bank Dunia memperkirakan kenaikan tingkat suku bunga yang hampir merata di seluruh dunia dapat membahayakan ekonomi global. Bahkan, krisis finansial global seperti yang terjadi di tahun 2008 dapat terulang akibat peningkatan tingkat suku bunga tersebut.
Kenaikan tingkat suku bunga untuk menekan inflasi akan membuat akses pinjaman semakin mahal. Hal ini juga akan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Peringatan dari Bank Dunia muncul setelah pertemuan kebijakan moneter antara Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) dan Bank Sentral UK, Bank of England, menetapkan rencana untuk meningkatkan tingkat suku bunga minggu depan.
Pada (15/9), Bank Dunia menyatakan, ekonomi dunia sedang berada pada puncak perlambatan sejak 1970. Lebih lanjut, Bank Dunia menyebut bahwa sebuah laporan mencatat, perekonomian tiga poros kekuatan ekonomi dunia yakni Amerika Serikat, Tiongkok, dan wilayah Eropa, telah melambat sangat tajam akhir-akhir ini.
“Di bawah kondisi tersebut, sebuah hantaman yang moderat sekalipun terhadap ekonomi global di tahun depan bisa membalikkan kondisi ke resesi,” tutur laporan Bank Dunia, seperti dikutip dari BBC, 17 September 2022.
Bank Dunia kemudian menyarankan bank-bank sentral di seluruh dunia untuk saling mengkoordinasikan kebijakan dalam rangka mengurangi pengetatan moneter.
Inflasi sendiri telah mencapai posisi tertingginya sejak 40 tahun terakhir di Amerika Serikat dan Inggris Raya. Ini dipicu oleh peningkatan permintaan sejalan dengan pelonggaran pembatasan sosial dan perang Rusia – Ukraina yang melambungkan harga energi, bahan bakar, dan harga-harga makanan.
Sebagai respon, bank-bank dunia lalu meningkatkan tingkat suku bunga untuk memadamkan lonjakan permintaan dari rumah tangga dan sektor usaha. Kenaikan tingkat suku bunga yang besar meningkatkan risiko resesi karena itu dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Sebagai informasi, bank-bank sentral memiliki riwayat saling berkoordinasi dalam mendukung stabilitas ekonomi global. Pada 2008 ketika krisis finansial global menerpa, the Fed bersama Bank Sentral Eropa, Bank Sentral Kanada, Bank Sentral Swedia, dan Bank Sentral Swiss, secara bersama-sama menurunkan tingkat suku bunga mereka.
Mereka semua menyatakan bahwa intensifikasi dari krisis finansial telah memperbesar risiko ekonomi. Dan itu memperkecil peluang untuk terjadinya stabilitas harga. (*) Steven Widjaja
Poin Penting Marak jasa joki Coretax di media sosial dengan tarif Rp50–100 ribu, memanfaatkan kesulitan… Read More
Poin Penting OJK kaji universal banking, yakni integrasi layanan keuangan (perbankan, asuransi, investasi, fintech) dalam… Read More
Poin Penting IHSG dibuka menguat 0,19 persen ke level 7.002,69 pada awal perdagangan, berbalik dari… Read More
Poin Penting Harga emas di Pegadaian kompak turun pada 7 April 2026 setelah sebelumnya stabil… Read More
Poin Penting Rupiah hari ini dibuka melemah ke Rp17.076 per dolar AS (turun 0,24 persen… Read More
Poin Penting IHSG diproyeksikan masih rawan koreksi ke rentang 6.745–6.849, meski skenario terbaik berpeluang menguat… Read More