Poin Penting
- Bank Aladin Syariah berbalik dari rugi Rp73,73 miliar (2024) menjadi laba Rp150,71 miliar (2025), ditopang kenaikan pendapatan penyaluran dana dan efisiensi operasional
- Intermediasi dan dana tumbuh kuat: DPK melonjak 92,18 persen menjadi Rp10,40 triliun, dengan penguatan deposito dan CASA.
- Fundamental semakin solid: Aset tumbuh 54,05 persen menjadi Rp14,42 triliun, CAR tinggi di 49,29 persen, serta profitabilitas membaik (ROA 1,24 persen, ROE 4,48 persen).
Jakarta – Bank Aladin Syariah menutup 2025 dengan “rapor biru”, memperlihatkan fondasi kinerja yang semakin kuat dan berkelanjutan. Kinerja laba bank ini melonjak signifikan di 2025, dengan berhasil membalikkan posisi dari rugi Rp73,73 miliar pada 2024 menjadi laba bersih Rp150,71 miliar, atau tumbuh 304,41 persen secara tahunan (yoy).
Mengutip laporan keuangan Bank Aladin Syariah pada Selasa (7/4), peningkatan laba ditopang oleh pendapatan dari penyaluran dana yang naik 34,22 persen menjadi Rp820,99 miliar. Di sisi lain, bagi hasil untuk pemilik dana investasi juga meningkat 66,47 persen menjadi Rp514,06 miliar, mencerminkan skema profit sharing yang semakin kompetitif.
Setelah distribusi bagi hasil, bank dengan kode saham BANK ini tetap mampu menjaga kinerja pendapatan dengan mencatatkan pendapatan setelah distribusi Rp306,93 miliar, tumbuh 1,34 persen. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun porsi bagi hasil meningkat, Bank Aladin Syariah tetap mampu mempertahankan margin secara sehat. Kinerja ini sekaligus mencerminkan strategi pengelolaan aset produktif yang makin matang.
Dari sisi efisiensi, perbaikan terlihat jelas. Beban operasional lainnya turun drastis 55,77 persen menjadi Rp162,56 miliar. Hal ini berdampak langsung pada rasio BOPO Bank Aladin Syariah yang membaik dari 109,29 persen menjadi 89,07 persen.
Tren tersebut menunjukkan bank yang dipimpin Koko T. Rachmadi sebagai Presiden Direktur ini semakin efisien dalam menjalankan operasionalnya. Dalam konteks ini, langkah efisiensi menjadi bagian penting dari turnaround strategy yang dijalankan manajemen.
Baca juga: Bank Aladin Syariah Perkuat Ekosistem dan Social Finance untuk Dorong Pertumbuhan 2026
Sementara, dari fungsi intermediasi, kinerja Bank Aladin Syariah juga terlihat impresif. Dana pihak ketiga (DPK) melonjak 92,18 persen menjadi Rp10,40 triliun, jauh di atas pertumbuhan industri perbankan yang sebesar 13,83 persen. Adapun, pembiayaan tumbuh 9,58 persen menjadi Rp5,20 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri yang sebesar 9,46 persen. Ini menunjukkan bank ini mampu menjaga momentum ekspansi sekaligus tetap selektif dalam penyaluran pembiayaan.
Lebih jauh, struktur DPK juga menunjukkan penguatan, terutama dari deposito yang naik 96,17 persen menjadi Rp9,30 triliun. Tabungan tumbuh 63,13 persen dan giro melonjak tajam meski dari basis kecil. Dana murah (CASA) meningkat 63,98 persen menjadi Rp1,10 triliun. Hal ini menjadi catatan penting dalam upaya meningkatkan low cost fund ke depan.
Dari sisi kualitas aset, rasio pembiayaan bermasalah (NPF) masih sangat terjaga. NPF gross berada di level 0,22 persen dan NPF net di 0,15 persen, jauh di bawah threshold 5 persen. Artinya, ekspansi pembiayaan yang dilakukan Bank Aladin Syariah tetap berada dalam koridor risiko yang sehat dan terkendali.
Performa mentereng juga terjadi di pos aset. Total aset Bank Aladin Syariah tumbuh signifikan 54,05 persen menjadi Rp14,42 triliun. Pertumbuhan ini menunjukkan peningkatan skala bisnis yang cukup agresif tapi tetap terukur. Di sisi permodalan, CAR Bank Aladin Syariah berada di level 49,29 persen, masih sangat kuat sekaligus menandakan ruang ekspansi masih terbuka lebar.
Baca juga: Bank Aladin Syariah dan Alfa Group Perkuat Sinergi Kembangkan Ekosisitem Bisnis
Perbaikan juga tercermin pada rasio profitabilitas. ROA berbalik positif menjadi 1,24 persen dan ROE naik ke 4,48 persen, menunjukkan bank semakin efektif dalam menghasilkan laba dari aset dan modalnya. NOM juga meningkat ke 1,36 persen, memperlihatkan kemampuan menghasilkan pendapatan bersih yang lebih baik.
Sementara, FDR berada di level 50,01 persen, di bawah kisaran ideal 78 persen-92 persen, yang berarti likuiditas Bank Aladin Syariah masih sangat longgar. (*) Ari Nugroho










