Bahlil Sebut Impor Minyak dari AS Masih Menguntungkan di Tengah Konflik Timur Tengah

Bahlil Sebut Impor Minyak dari AS Masih Menguntungkan di Tengah Konflik Timur Tengah

Poin Penting

  • Impor minyak dari AS tetap menguntungkan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan Indonesia masih memperoleh keuntungan karena harga ditentukan melalui proses negosiasi sebelum transaksi.
  • Pasokan energi dinilai tetap aman. Pertamina diyakini mampu menegosiasikan harga terbaik, sementara sumber impor minyak tidak hanya dari Timur Tengah tetapi juga dari berbagai negara.
  • Konflik Timur Tengah dorong kenaikan harga minyak. Ketegangan Iran-AS-Israel memicu lonjakan harga Brent hingga sekitar US$83 per barel dan berpotensi memengaruhi pasokan energi global.

Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia tetap memperoleh keuntungan dari impor minyak mentah asal Amerika Serikat (AS), meski harga minyak global meningkat akibat konflik di Timur Tengah.

Harga minyak mentah jenis Brent di bursa Intercontinental Exchange tercatat mencapai 83 dolar AS per barel. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rerata harga Brent pada Januari 2026 yang berada di kisaran 64 dolar AS per barel.

“Sudah pasti sebelum dilakukan transaksi ada negosiasi. Pasti menguntungkan,” kata Bahlil dikutip ANTARA, Kamis, 5 Maret 2026.

Bahlil meyakini perusahaan energi negara, PT Pertamina (Persero), memiliki kemampuan untuk menegosiasikan harga terbaik dalam pengadaan minyak mentah dari AS.

Baca juga: Bahlil Pastikan Pertalite Tak Naik Meski Harga Minyak Dunia Melonjak

Peralihan sebagian impor minyak dari Timur Tengah ke AS juga dinilai tetap menjamin ketersediaan minyak mentah di dalam negeri.

Impor BBM dari Singapura

Bahlil menjelaskan, untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM), Indonesia selama ini banyak mengimpor dari Singapura. Menurutnya, pasokan dari negara tersebut relatif stabil karena Singapura memiliki berbagai sumber minyak mentah dari sejumlah negara.

Bahlil menegaskan bahwa Timur Tengah bukan satu-satunya sumber minyak mentah di dunia.

“Ada dari Afrika seperti Angola, Brazil, sebagian juga mereka ambil dari Malaysia, bahkan dari Amerika,” ujar Bahlil.

Dampak Konflik Timur Tengah

Isu ketahanan energi Indonesia kembali menjadi perhatian setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Pada 28 Februari 2026, AS bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan serta korban sipil.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Baca juga: Airlangga Ungkap Risiko Harga BBM Naik Akibat Perang Israel-AS vs Iran

Pada 1 Maret 2026, Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan tersebut. Televisi pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi kematian Khamenei akibat serangan tersebut.

Media Iran juga melaporkan bahwa Selat Hormuz “secara efektif” telah ditutup setelah serangan itu, meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai blokade penuh.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis energi global yang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Jalur ini juga dilalui oleh volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.

Diperkirakan sekitar 20 persen konsumsi minyak harian dunia—setara sekitar 20 juta barel—melewati koridor tersebut setiap hari. Kondisi ini membuat konflik di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi harga dan pasokan energi global. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62