Moneter dan Fiskal

Bahaya! Inflasi Diprediksi Bisa Melonjak 6%, BI Harus Apa?

Jakarta – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah menanggapi tingkat inflasi Indonesia yang mencapai 4,35% (year-on-year) pada Juni 2022. Menurutnya, peningkatan tingkat inflasi ini masih berpotensi melambung lebih tinggi lagi, mencapai 6% secara tahunan.

“Meskipun masih rendah, ada potensi inflasi masih akan meningkat tajam ke depan. Apabila pemerintah menaikkan harga barang-barang subsidi, pertalite, gas 3 kg dan listrik 900va, ekspektasi inflasi bisa meningkat dan memicu lonjakan inflasi yang liar,” jelas Piter ketika dihubungi Infobank, Jumat, 1 Juli 2022.

Meskipun demikian, Piter mengaku tingkat inflasi yang sudah berada di atas target BI sekarang ini bukanlah hal yang mengherankan. Menurutnya peningkatan ini sudah diperkirakan akan terjadi dan mengikuti harga komoditas global serta inflasi tinggi di berbagai negara.

Ia menilai inflasi Indonesia saat ini masih terhitung rendah jika dibandingkan beberapa negara lain. Sebut saja Amerika Serikat yang tingkat inflasinya sempat mencapai, 8,3% dan menjadi yang tertinggi selama 40 tahun terakhir. Negara Turki bahkan sudah mengalami hyper inflasi di atas 80%.

“Pemerintah nampaknya sudah mengantisipasi hal ini dengan tidak menaikkan pertalite dan gas 3 kg. Caranya dengan mengatur distribusi melalui aplikasi. Harga tidak naik tetapi penjualannya diatur agar tepat sasaran. BI diharapkan juga menahan inflasi dengan kebijakan moneter yang lebih ketat, termasuk menaikkan suku bunga acuan pada waktunya,” jelas Piter.

Hal ini selaras dengan pendapat Kepala BPS, Margo Yuwono yang menilai tingkat inflasi akan bergantung pada kebijakan harga yang diatur pemerintah. Ia mengungkapkan, subsidi energi yang dilakukan pemerintah mampu menekan harga komoditas yang ada sehingga tidak memicu naiknya tingkat inflasi lebih tinggi lagi.

Berdasarkan BPS, inflasi pada Juni 2022 mencapai sebesar 0,60% month-to-month (mom). Jika dirinci, tingkat inflasi ini terdiri dari peningkatan komponen inti sebesar 0,12%, komponen harga diatur pemerintah sebesar 0,05%, dan komponen harga bergejolak sebesar 0,44%. (*)

Evan Yulian

Recent Posts

IHSG Sesi I Ditutup Lanjut Menguat 3,39 Persen ke Level 7.207

Poin Penting IHSG menguat signifikan 3,39% ke level 7.207 pada sesi I, didorong sentimen positif… Read More

1 hour ago

Kemenkop dan MUI Kolaborasi Perkuat Ekonomi Umat lewat Koperasi Desa

Poin Penting Kemenkop dan MUI berkolaborasi untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi umat melalui koperasi berbasis syariah.… Read More

2 hours ago

Purbaya Ungkap Alasan Tahan Harga BBM Subsidi demi Jaga Daya Beli

Poin Penting: Pemerintah menahan harga BBM subsidi untuk menjaga daya beli masyarakat dan mencegah perlambatan… Read More

2 hours ago

Adira Finance Tebar Dividen Rp777,37 Miliar, Cek Jadwalnya

Poin Penting Adira Finance membagikan dividen Rp772,37 miliar (Rp630/saham) atau sekitar 50 persen dari laba… Read More

4 hours ago

Injeksi Likuiditas ke Bank Pelat Merah, Bank-bank Non-Himbara Kena Spillover Effect

Poin Penting Pemerintah menyiapkan injeksi likuiditas Rp100 triliun ke bank-bank Himbara untuk menjaga stabilitas sistem… Read More

4 hours ago

Viral Ribuan Motor Listrik untuk Operasional MBG, Purbaya: Tahun Lalu Kita Tolak!

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut usulan pengadaan motor listrik dan komputer untuk… Read More

4 hours ago