Poin Penting
- PT Astra International Tbk mencatat laba Rp5,85 triliun di kuartal I 2026, turun 16 persen yoy akibat pendapatan melemah
- Penurunan laba Astra International dipicu anjloknya segmen alat berat dan pertambangan.
- Lini bisnis otomotif dan jasa keuangan masih tumbuh, disertai buyback saham hingga Rp2 triliun.
Jakarta – PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih secara konsolidasi Rp5,85 triliun di kuartal I 2026. Laba tesebut susut 16 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibanding tahun lalu yang sebesar Rp6,93 triliun.
Presiden Direktur ASII, Rudy menjelaskan, penurunan laba bersih itu sejalan dengan pendapatan bersih konsolidasian grup pada kuartal I 2026 yang turun 6 persen yoy menjadi Rp78,66 triliun dari kuartal I 2025 yang tercatat Rp83,36 triliun.
“Penurunan laba bersih disebabkan oleh kinerja yang lebih rendah dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, terutama akibat kontribusi dari bisnis pertambangan emas yang minim, serta volume yang lebih rendah di bisnis alat berat dan bisnis jasa penambangan,” jelas Rudy dikutip 1 Mei 2026.
Selain itu, kata Rudy, selama tiga bulan pertama tahun 2026 Astra Grup mencatat beberapa non-recurring charges dan penyesuaian nilai wajar atas investasi-investasi ekuitas.
“Tanpa memperhitungkan hal ini, laba bersih Astra Grup turun 8 persen menjadi Rp6,8 triliun,” tambah Rudy.
Baca juga: RUPST Astra Angkat Rudy jadi Presdir dan Tetapkan Dividen Rp15,7 Triliun
Lebih jauh dia menjelaskan, kinerja perseroan selama kuartal I 2026 masih ditopang laba dari bisnis otomotif dan mobilitas yang naik 4 persen dari Rp2,27 triliun di kuartal I 2025 menjadi Rp2,36 triliun pada kuartal I 2026.
Kemudian, laba segmen jasa keuangan juga mengalami pertumbuhan 6 persen menjadi Rp2,26 triliun dari Rp2,14 triliun yang didorong oleh peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen dengan nilai portofolio pembiayaan yang meningkat.
Berbeda dengan lini bisnis otomotif dan jasa keuangan, laba bisnis segmen alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi justru menurun drastis hingga 79 persen menjadi Rp408 miliar dari Rp1,95 triliun.
“Penurunan kinerja terutama disebabkan tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe dan dampak terhadap permintaan pelanggan atas alat berat dan jasa kontraktor pertambangan akibat alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah pada tahun 2026,” jelas Rudy.
Lalu, pada segmen bisnis lainnya juga masih mencatatkan kinerja keuangan yang positif, antara lain segmen agribisnis yang meraih laba bersih Rp298 miliar tumbuh 35 persen.
Segmen agribisnis didorong oleh peningkatan penjualan minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya sebesar 6 persen menjadi 457 ribu ton, dengan harga CPO yang relatif stabil Rp14.556 per kilogram.
Selanjutnya, laba bersih segmen infrastruktur meningkat 32 persen menjadi Rp343 miliar, ditopang oleh tarif jalan tol yang lebih tinggi dan peningkatan volume lalu lintas. Konsesi jalan tol Grup mencatatkan peningkatan pendapatan harian sebesar 14 persen.
Dari sisi laba bersih segmen teknologi informasi mengalami kenaikan 47 persen menjadi Rp53 miliar dan segmen properti mencatat pertumbuhan laba bersih 145 persen menjadi Rp115 miliar.
“Ke depan, kondisi pasar diperkirakan masih akan menantang di tengah ketegangan geopolitik. Kami akan terus mengelola tantangan jangka pendek secara cermat dan disiplin, dengan tetap fokus dalam menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan,” imbuhnya.
Baca juga: OJK Setujui Pencabutan Izin Usaha Pindar Milik Astra
Buyback Saham
Pada Maret 2026, Astra mengumumkan tahap ketiga program pembelian kembali saham dengan nilai maksimum sebesar Rp2,0 triliun dengan periode pelaksanaan dari 16 Maret hingga 15 Juni 2026.
Sementara pada April 2026, United Tractors mengumumkan tahap ketiga program pembelian kembali saham dengan nilai maksimum sebesar Rp2,0 triliun dengan periode pelaksanaan dari 1 April hingga 30 Juni 2026. (*)
Editor: Galih Pratama




