Poin Penting:
- AS melihat peluang kerja sama dengan Indonesia di sektor jasa keuangan dan energi nuklir.
- DFC juga menjajaki kolaborasi di bidang transportasi, infrastruktur, pelabuhan, serta mineral kritis.
- Kapasitas investasi DFC meningkat dari 60 miliar dolar AS menjadi 205 miliar dolar AS setelah perluasan kewenangan dari Kongres AS.
Jakarta – Peluang kerja sama Amerika Serikat (AS) dengan Indonesia kembali menguat. Korporasi Pembiayaan Pembangunan Internasional AS melihat potensi kolaborasi di sektor jasa keuangan dan energi nuklir.
Kepala Bidang Kebijakan U.S. International Development Finance Corporation (DFC) Caroline Vik mengatakan peluang tersebut muncul setelah pihaknya berdialog dengan pelaku usaha di Indonesia.
Menurutnya, sektor swasta menunjukkan prospek investasi yang menjanjikan.
“Pertemuan kami dengan pelaku sektor swasta (di Indonesia) mengungkapkan berbagai peluang menarik di bidang energi nuklir dan jasa keuangan,” kata Caroline Vik dalam jumpa pers daring yang diikuti dari Jakarta, dikutip Antara, Rabu (8/7).
Baca juga: Trump Pertimbangkan Senjata Nuklir ke Iran di Tengah Konflik yang Memanas
AS Lihat Peluang di Sektor Transportasi hingga Infrastruktur
Selain sektor swasta, AS juga melihat peluang kerja sama dengan pemerintah Indonesia di berbagai bidang strategis.
Sektor tersebut meliputi transportasi, infrastruktur, pembangunan pelabuhan baru, hingga penambangan dan pengolahan mineral kritis.
Caroline mengatakan pembahasan turut mencakup upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional.
Fokusnya berada pada eksplorasi hulu serta pengembangan infrastruktur penyimpanan dan transportasi energi tingkat menengah.
“Kami juga membahas mengenai fokus utama pemerintah dalam meningkatkan ketahanan energi melalui eksplorasi hulu (upstream) serta infrastruktur penyimpanan dan transportasi energi tingkat menengah (midstream),” ujarnya.
DFC Perkuat Kapasitas Investasi
DFC merupakan lembaga keuangan pembangunan milik Pemerintah AS. Lembaga ini menjadi salah satu instrumen utama diplomasi ekonomi Washington.
DFC mengelola pembiayaan swasta untuk mendukung kebijakan luar negeri dan pembangunan ekonomi strategis. Kapasitas investasinya juga meningkat setelah Kongres AS memperluas kewenangannya.
Nilai kapasitas investasi DFC naik dari 60 miliar dolar AS menjadi 205 miliar dolar AS. Dengan kurs Rp17.984 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp1,08 kuadriliun menjadi Rp4,49 kuadriliun.
Baca juga: 16 Kerja Sama RI-India Diteken di Hadapan Prabowo dan Modi, Ini Daftarnya
Misi Perkuat Kemitraan Ekonomi Kawasan
Kunjungan Caroline Vik ke Jakarta merupakan bagian dari lawatan regional pada 19–25 Juni. Sebelumnya, ia mengunjungi Manila, Hanoi, Phnom Penh, Vientiane, dan Kuala Lumpur.
Dalam rangkaian kunjungan itu, AS bertemu pejabat pemerintah dan pelaku usaha di berbagai negara.
Pembahasan difokuskan pada penguatan kemitraan ekonomi strategis, keamanan ekonomi kawasan, serta peluang investasi di sektor energi, teknologi, mineral kritis, keamanan rantai pasok, farmasi, dan infrastruktur strategis maupun digital.
Dengan prospek tersebut, peluang kolaborasi AS dan Indonesia diperkirakan semakin terbuka.
Jasa keuangan, energi nuklir, dan infrastruktur menjadi sektor yang berpotensi menjadi fokus kerja sama ke depan. (*)
Editor: Yulian Saputra


