Poin Penting:
- AS dan Iran mengumumkan tercapainya kerangka kesepakatan damai setelah negosiasi intensif.
- Draf kesepakatan mencakup penghentian konflik, pembukaan Selat Hormuz, hingga negosiasi nuklir selama 60 hari.
- Penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026.
Jakarta – Amerika Serikat (AS) dan Iran mengumumkan telah mencapai kerangka kesepakatan damai setelah melalui serangkaian negosiasi intensif. Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal menuju penghentian konflik yang selama ini memicu gejolak di kawasan Timur Tengah dan pasar energi global.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan perkembangan tersebut melalui platform Truth Social.
“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semua pihak!” tulis Trump.
Baca juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.776 per Dolar AS, Ditopang Harapan Damai AS-Iran
Trump juga menyatakan persetujuannya untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mencabut blokade Angkatan Laut AS terhadap Iran.
“Saya dengan ini sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa pungutan biaya, dan pada saat yang sama mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat,” tambahnya.
Trump kemudian mengisyaratkan normalisasi aktivitas pelayaran dan perdagangan energi global dengan mengatakan, “Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir!”
Kesepakatan Damai AS-Iran Akhiri Perang dan Buka Selat Hormuz
Konfirmasi mengenai tercapainya kesepakatan juga disampaikan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif. Dalam unggahan di media sosial X pada Senin dini hari, Sharif menyebut kedua negara telah mencapai titik temu setelah pembicaraan yang berlangsung intensif.
“Setelah pembicaraan yang intensif, kami dengan senang hati mengumumkan bahwa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah tercapai,” kata Sharif.
Ia menambahkan bahwa “kedua pihak telah menyatakan penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon.”
Menurut Sharif, penandatanganan resmi perjanjian dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni di Swiss.
Baca juga: Dampak Putusan Kongres AS Meloloskan War Powers Resolution terhadap Perang Iran
Sementara itu, media Iran mengungkap rincian draf nota kesepahaman berisi 14 poin yang menjadi kerangka awal menuju perjanjian final. Draf tersebut memuat penghentian perang secara permanen, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade laut AS, hingga dimulainya masa negosiasi selama 60 hari terkait isu nuklir dan pencabutan sanksi.
Selain menghentikan konflik, rancangan kesepakatan juga mencakup komitmen AS untuk tidak mencampuri urusan domestik Iran serta menghormati kedaulatan negara tersebut. AS juga disebut akan menarik pasukan dari wilayah sekitar Iran dan tidak menambah pengerahan militer baru selama masa negosiasi berlangsung.
Pencabutan Sanksi dan Negosiasi Nuklir jadi Agenda Utama
Dalam draf yang dilaporkan kantor berita Mehr, Kesepakatan damai AS-Iran turut mengatur penangguhan sejumlah sanksi terhadap ekspor minyak, produk petrokimia, dan komoditas turunannya. Langkah ini akan memberikan akses yang lebih luas bagi Iran terhadap sistem keuangan internasional.
Selain itu, aset Iran yang selama ini dibekukan senilai 24 miliar dolar AS atau sekitar Rp427 triliun direncanakan mulai dicairkan selama periode negosiasi 60 hari. Setengah dari dana tersebut disebut akan tersedia sebelum pembicaraan tahap akhir dimulai.
Baca juga: Tim Perunding AS-Iran Sepakat Gencatan Senjata 60 Hari
Pembahasan lanjutan nantinya akan difokuskan pada isu nuklir, termasuk pengelolaan material yang telah diperkaya dan aktivitas pengayaan uranium. Iran dalam draf tersebut kembali menegaskan komitmennya terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) untuk tidak memproduksi senjata nuklir.
Namun demikian, program rudal Iran serta dukungannya terhadap kelompok-kelompok perlawanan tidak akan menjadi bagian dari agenda perundingan akhir. Ketentuan tersebut menjadi salah satu batas tegas yang dipertahankan Teheran dalam proses negosiasi.
Rekonstruksi Iran dan Perubahan Menit-Menit Terakhir
Draf nota kesepahaman juga mengatur rencana rekonstruksi ekonomi Iran. AS dan negara-negara sekutunya disebut diwajibkan menyiapkan paket rekonstruksi dengan nilai sedikitnya 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.318 triliun.
Kesepakatan final nantinya akan diperkuat melalui resolusi Dewan Keamanan PBB. Namun, negosiasi tahap akhir baru dapat dimulai setelah sebagian aset Iran yang dibekukan dicairkan, sanksi terhadap ekspor minyak ditangguhkan, dan blokade laut resmi dicabut.
Pada tahap akhir perundingan, sejumlah perubahan juga dimasukkan ke dalam draf. Kantor Berita Tasnim melaporkan adanya ketentuan tambahan terkait pengelolaan Selat Hormuz serta jaminan mengenai kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon.
Baca juga: Hasil Investigasi PBB: TNI Tewas di Lebanon Akibat Peluru Tank Israel
Menurut sumber yang dikutip Tasnim, klausul tambahan tersebut berperan penting dalam mencegah pelaksanaan rencana balasan Iran atas serangan Israel di kawasan pinggiran selatan Beirut.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, Kesepakatan damai AS-Iran berpotensi menjadi salah satu terobosan diplomatik terbesar di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus membuka jalan bagi normalisasi hubungan kedua negara dan pemulihan stabilitas kawasan. (*)
Editor: Yulian Saputra


