Nasional

Akademisi IPB Soroti Impor Komoditas Pangan RI Melonjak Tajam

Poin Penting

  • Impor pangan Indonesia naik dari 22 juta ton jadi 34,4 juta ton dalam 10 tahun terakhir.
  • Impor 12 komoditas pangan kini melampaui total produksi beras nasional.
  • Impor beras 2024 tembus 4,52 juta ton, tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Jakarta – Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Dwi Andreas Santoso menyoroti tingginya impor pangan dalam satu dekade terakhir, terutama untuk komoditas-komoditas utama.

Lonjakan ini disebabkan oleh berbagai faktor yang saling terkait seperti produksi domestik yang tidak mencukupi, permintaan yang tinggi, hingga dampak perubahan iklim.

“Impor juga saat ini dalam 10 tahun terakhir untuk 12 komoditas utama kita, yang impornya tiap tahun lebih dari 100 ribu ton berapa? dari 22 juta ton menjadi 34,4 juta ton. Bisa dibayangkan dalam tempo 10 tahun, impor pangan kita melonjak 12 juta ton,” beber Dwi, di Jakarta, Selasa, 30 September 2025.

Baca juga: Realisasi Anggaran Ketahanan Pangan Capai Rp73,6 Triliun

Atas lonjakan impor tersebut, dirinya menyebut bahwa ketergantungan impor RI terhadap 12 komoditas semakin lama semakin besar.

Bahkan, kata dia, impor 12 komoditas tersebut saat ini lebih besar dibandingkan produksi beras yang dihasilkan oleh para petani Indonesia.

“Impor 12 komoditas pangan tersebut lebih besar dibanding produksi beras kita. Yang tahun lalu kan 30,6 juta ton. Bisa dibayangkan,” ungkapnya.

Baca juga: Kenaikan Harga Beras jadi Alarm Serius Ketahanan Pangan RI

Sebagai informasi, impor 12 komoditas pangan tersebut meliputi beras, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai, daging sapi-kerbau, daging ayam, telur ayam, gula pasir, minyak goreng, dan ikan.

Impor beras, misalnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor 4,52 juta ton beras sepanjang 2024. Jumlah impor ini naik sekitar 47,38 persen dari 2023 sebanyak 3,06 juta ton.

Bahkan, jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Pada 2018, total impor beras sebanyak 2,25 juta ton.

Kemudian pada 2019 hanya 444,51 ribu ton, 2022 menjadi 359,29 ribu ton, 2021 sebanyak 407,74 ribu ton, dan 2022 yakni 429,21 ribu ton. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

KCIC Pastikan Whoosh Aman di Tengah Cuaca Ekstrem, Sensor Berjalan Optimal

Poin Penting Kereta Whoosh sempat berhenti akibat seng di jalur, namun sensor mendeteksi dini dan… Read More

11 hours ago

RI-Jepang Teken MoU Rp384 T, DPR Soroti Realisasi di Lapangan

Poin Penting Jepang menandatangani MoU investasi senilai Rp384 triliun dengan Indonesia. Kerja sama mencakup sektor… Read More

12 hours ago

Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, RI Desak Investigasi dan Evaluasi UNIFIL

Poin Penting Tiga prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam misi UNIFIL di Lebanon.… Read More

13 hours ago

Saham Bank INFOBANK15 Bergerak Variatif di Akhir Pekan, Ini Rinciannya

Poin Penting IHSG ditutup turun 2,19% pada 2 April 2026, diikuti pelemahan seluruh indeks utama.… Read More

18 hours ago

BEI Rangkum 5 Saham Pemberat IHSG Pekan Ini

Poin Penting IHSG melemah 0,99% sepekan, dengan lima saham utama menjadi penekan terbesar indeks. BREN… Read More

19 hours ago

IHSG Sepekan Melemah 0,99 Persen, Kapitalisasi Pasar jadi Rp12.305 Triliun

Poin Penting IHSG melemah 0,99% dalam sepekan ke level 7.026,78, seiring mayoritas indikator pasar saham… Read More

19 hours ago