Poin Penting
- IPO dinilai menjadi kunci untuk menarik investasi ke pasar modal.
- Pemerintah dorong pipeline IPO di tengah ketidakpastian ekonomi global.
- Kebutuhan pembiayaan diproyeksikan naik hingga Rp9.200 triliun pada 2029.
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan pentingnya pasar modal sebagai instrumen utama untuk menarik investasi, khususnya melalui skema initial public offering (IPO).
Ia menyebut, meski kuartal I 2026 masih diwarnai ketidakpastian ekonomi, pertumbuhan pasar modal tetap harus didorong.
“Mungkin dalam periode first quarter ini ketidakpastian tinggi sehingga ini masih dalam pipeline. Pipeline-nya belum muncul. Nah, ini mungkin perlu dikejar ke depan karena ini salah satu sektor juga yang penting,” ujar Airlangga dalam acara peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana serta Pembukaan Pekan Reksa Dana Tahun 2026, di Main Hall Bursa Efek Indonesia Jakarta, Senin, 27 April 2026.
Baca juga: Menkeu Purbaya Optimistis IHSG Bisa Tembus 28.000, Ini Pendorongnya
Airlangga mengungkapkan realisasi investasi pada triwulan I 2026 mencapai Rp498,79 triliun, tumbuh 7,22 persen, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 706.000 orang.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan sektor riil masih tumbuh positif dan berpotensi meningkat ke depan.
Kebutuhan Pembiayaan Terus Meningkat
Ia memproyeksikan kebutuhan pembiayaan akan meningkat signifikan, dari Rp7.400 triliun pada 2026 menjadi Rp9.200 triliun pada 2029.
“Kemudian, tentu kebutuhan pembiayaan akan meningkat di tahun 2026 sebesar Rp7.400 triliun dan akan meningkat menjadi Rp9.200 triliun pada 2029. Nah, tentu ini sektornya adalah swasta dan masyarakat,” sambungnya.
Baca juga: Wamenkeu: Penghapusan MBG Sabtu Hemat Rp1 Triliun dalam Sehari
Selain itu, Airlangga juga mengapresiasi kontribusi investor ritel yang mencapai 50 persen di pasar saham domestik.
Pemerintah, lanjutnya, terus memperkuat pasar modal melalui berbagai kerja sama ekonomi internasional, termasuk perjanjian EU-CEPA yang ditargetkan rampung tahun ini.
Selain itu, kebijakan debottlenecking juga dilakukan untuk mempermudah investasi, khususnya bagi sektor swasta.
“Kemudian, pemerintah juga apresiasi OJK, BEI, KSEI, dan KPEI sebagai SRO dan terutama untuk melakukan reform yang kemarin mendapatkan respons positif dari berbagai agensi,” tandasnya. (*) Steven Widjaja








