Poin Penting
- AIIB ditargetkan mulai beroperasi di Jakarta pada Juni 2027 sebagai kantor regional yang melayani kawasan ASEAN.
- Pemerintah menyiapkan aset negara berupa tanah dan gedung untuk mendukung operasional kantor cabang AIIB di Jakarta.
- AIIB menyediakan fasilitas pembiayaan proyek hingga USD17 miliar yang dapat dimanfaatkan Indonesia sampai 2029.
Jakarta – Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) selangkah lebih dekat menjadi pusat layanan pembiayaan infrastruktur kawasan setelah menyatakan minat membuka kantor cabang regional di Jakarta.
Pemerintah pun mulai menyiapkan aset negara berupa tanah dan gedung sebagai lokasi operasional kantor tersebut yang ditargetkan mulai beroperasi pada Juni 2027.
Langkah tersebut menjadi perkembangan baru dalam kerja sama Indonesia dengan AIIB. Di luar komitmen pembiayaan proyek senilai USD17 miliar hingga 2029 yang telah diumumkan sebelumnya, kehadiran kantor regional AIIB di Jakarta dinilai akan memperkuat posisi Indonesia sebagai hub pembiayaan infrastruktur bagi kawasan ASEAN.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah telah berkomitmen menyediakan aset negara yang representatif agar operasional kantor cabang AIIB dapat segera terealisasi.
Baca juga: Penerbitan Panda Bond Ditunda ke Akhir Juli 2026, Purbaya Beberkan Alasannya
AIIB Jakarta Diproyeksikan Layani Kawasan ASEAN
Purbaya mengungkapkan AIIB tidak hanya menyediakan fasilitas pembiayaan proyek bagi Indonesia, tetapi juga berkeinginan memperluas kehadirannya melalui pembukaan kantor cabang di Jakarta.
“AIIB juga ingin buka kantor cabang di Indonesia,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Jumat (26/6/2026).
Menurut dia, pemerintah menyambut positif rencana tersebut mengingat besarnya dukungan pembiayaan yang diberikan AIIB untuk proyek-proyek pembangunan nasional.
“Kita janji akan sediakan tanah dan bangunan,” kata Purbaya.
Saat ini pemerintah sedang mengidentifikasi aset negara yang dinilai paling layak untuk dijadikan kantor regional AIIB.
“Akan kita sediakan, sedang kita cari mana yang cocok. Kita lagi lihat aset kita yang mana yang pas, yang cukup representatif bisa dipakai kantor cabang AIIB,” ujarnya.
Purbaya berharap kantor regional tersebut sudah dapat beroperasi pada Juni tahun depan sehingga AIIB Jakarta dapat menjadi pusat koordinasi pembiayaan proyek infrastruktur di kawasan.
Jakarta Didorong Menjadi Hub Pembiayaan Infrastruktur ASEAN
Purbaya menilai keberadaan kantor cabang AIIB di Indonesia memiliki nilai strategis yang jauh melampaui aspek pembiayaan semata. Pemerintah menginginkan Jakarta menjadi pusat layanan AIIB untuk negara-negara ASEAN.
“ASEAN nanti dilayani dari Jakarta,” tegasnya.
Jika terealisasi, posisi tersebut akan memperkuat peran Indonesia dalam ekosistem pembiayaan pembangunan kawasan sekaligus mempercepat koordinasi proyek lintas negara yang didukung AIIB.
Sebelumnya, pemerintah juga telah mengamankan komitmen fasilitas pembiayaan proyek (project financing) senilai USD17 miliar dari AIIB yang dapat dimanfaatkan hingga 2029. Skema tersebut merupakan pembiayaan proyek produktif dengan biaya pendanaan yang lebih kompetitif dibandingkan pendanaan komersial.
Purbaya menegaskan dana tersebut bukan merupakan pinjaman bebas penggunaan, melainkan pembiayaan untuk proyek-proyek yang memenuhi kriteria AIIB.
“Kalau proyeknya ada, langsung cairkan,” ujarnya.
Baca juga: Purbaya Guyur Himbara Rp400 Triliun, Kredit Ditargetkan Tumbuh 15 Persen
Pembiayaan USD17 Miliar Perkuat Agenda Pembangunan
Komitmen pembiayaan AIIB senilai USD17 miliar menjadi bagian dari Multi-Year Rolling Pipeline untuk periode 2025–2029. Dana tersebut dapat dimanfaatkan pemerintah guna mendukung berbagai proyek infrastruktur dan pembangunan nasional sesuai kesiapan proyek yang diajukan.
Purbaya menyebut AIIB juga menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental fiskal Indonesia. Menurutnya, lembaga multilateral tersebut tidak memiliki kekhawatiran terhadap pengelolaan fiskal maupun prospek ekonomi nasional.
Dengan rencana pembukaan AIIB di Jakarta sebagai kantor regional ASEAN, Indonesia tidak hanya memperoleh akses pembiayaan jangka panjang, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai pusat koordinasi investasi dan pembiayaan infrastruktur kawasan.
Langkah ini berpotensi meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai hub keuangan regional sekaligus mempercepat realisasi proyek-proyek strategis nasional. (*)
Editor: Galih Pratama


