Poin Penting
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencetak sejarah dengan membukukan laba perdana Rp171 miliar pada kuartal I 2026, setelah sebelumnya terus merugi sejak berdiri
- Perbaikan kinerja terlihat dari penurunan rugi besar pada 2024–2025 serta pertumbuhan pendapatan 26 persen menjadi Rp5,3 triliun, ditopang transformasi bisnis sepanjang 2025
- Kinerja operasional juga menguat dengan adjusted EBITDA mencapai Rp2 triliun, didominasi segmen Gojek, dan ditargetkan meningkat ke Rp3,2–Rp3,4 triliun sepanjang 2026.
Jakarta – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akhir mencetak sejarah baru. Emiten yang selama ini menanggung kerugian keuangan akhirnya mencetak laba sebesar Rp171 miliar pada kuartal I 2026.
Komisaris Utama GOTO Agus Martowardojo pun menyampaikan rasa syukur di depan para direksi dan jajaran eksekutifnya saat bertemu para pemimpin redaksi di Jakarta, 30 April 2026.
“Tentu kita semua bersyukur, sejak awal berdiri GoTo Gojek Tokopedia memang belum pernah membukukan profit. Dan profit di kuartal pertama tahun 2026 bisa dibukukan Rp171 miliar. Ini pertama kalinya perusahaan berhasil mencatatkan keuntungan,” ujar Menteri Keuangan 2010-2013 dan Gubernur Bank Indonesia (BI) 2013-2018 ini.
Baca juga: GOTO Cetak Laba Perdana Rp171 Miliar di Kuartal I 2026
Sebelumnya, kerugian yang sangat besar ditanggung GOTO.
“Jadi kalau di tahun 2024 itu kita rugi Rp5,4 triliun itu besar sekali ya. Di tahun 2025 kita bisa turunkan menjadi Rp1,5 triliun rugi, tapi nolnya tetap 12. Tetapi sekarang di tahun 2026 kuartal pertama kita sudah membukukan profit Rp171 miliar,” kata Dirketur Utama Bank Mandiri 2005-2010
Dari sisi pendapatan bersih GOTO membukukan angka Rp5,3 triliun pada kuartal I 2026, atau tumbuh 26 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).
Agus menilai positif dengan transformasi dilakukan direksi GoTo sepanjang 2025, sehingga perusahaan berhasil mencapai adjusted EBITDA sebesar Rp2 triliun. Adjusted EBITDA adalah ukuran laba operasional perusahaan yang tidak memperhitungkan biaya bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Pada awal 2025, adjusted EBITDA hanya berada di kisaran Rp1,4 triliun hingga Rp1,6 triliun.
Kemudian setelah lewat pertengahan tahun, target tersebut direvisi menjadi Rp1,8 triliun hingga Rp1,9 triliun, sebelum akhirnya ditutup pada angka Rp2 triliun.
“Saya senang karena Rp2 triliun itu penyokong utamanya adalah di Gojek, di ODS (On-Demand Services), di mana itu memberikan kontribusi hampir Rp1,5 triliun dan Rp400 miliar itu dari GoPay dan GoTo Financial. Jadi kurang lebih sebesar Rp2 triliun,” tutur Agus yang memproyeksikan adjusted EBITDA perusahaan pada pada 2026 akan berada di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Baca juga: GoTo Klarifikasi soal Investasi Google dan Status Nadiem Makarim
Sementara, Direktur Utama dan CEO GoTo, Hans Patuwo berterima kasih kepada semua pihak yang telah mereka memberikan kepercayaan dari awal berdirinya GoTo. Mereka juga yang mengenalkan GoTo, terutama Gojek kepada masyarakat luas. mendukung perusahaan berhasil mencetak sejarah capaian laba bersih pada tiga bulan pertama tahun ini.
“Ini prestasi milik semua orang. Kami terima kasih terutama kepada para mitra driver dan merchant,” katanya. (*) KM




