Poin Penting
- Adopsi AI dan regulasi menjadi tantangan utama industri 2026, menuntut model bisnis berkelanjutan dan strategi adaptif.
- Industri logistik menghadapi persaingan red ocean, tekanan geopolitik, serta tuntutan efisiensi dan kolaborasi lintas ekosistem.
- Masuknya pemain baru memperketat persaingan, mendorong industri, termasuk otomotif, fokus pada kualitas dan keberlanjutan, bukan sekadar volume.
Jakarta – Pelaku industri menilai arah perkembangan industri pada 2026 akan diwarnai tekanan efisiensi, perubahan perilaku pasar, dan menguatnya pengaruh faktor eksternal seperti regulasi, geopolitik, dan perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).
Dari sektor teknologi dan industri digital, CEO PT Cipta Teknologi International Yogi Triharso menilai percepatan adopsi AI dan dinamika regulasi akan semakin menentukan arah industri pada 2026. Kondisi ini menuntut pelaku usaha memperkuat strategi adaptasi dan keberlanjutan bisnis.
“Memasuki 2026, teknologi seperti generative AI tidak hanya mengubah user experience, tetapi juga menantang industri untuk membangun model monetisasi yang berkelanjutan. AI seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai alat efisiensi, melainkan sebagai enabler yang meningkatkan kapasitas dan kapabilitas manusia,” ujar Yogi, di Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.
Baca juga: Amar Bank Tawakan Pembiayaan Rp5 Miliar untuk Pelaku Industri Film
Sementara itu, dari sektor logistik dan freight forwarder, Wakil Ketua Umum Bidang Maritim & Pelabuhan DPP ALFI/ILFA, Harry Sutanto menyebut perubahan pola perdagangan global, dinamika geopolitik, dan isu perubahan iklim menjadi tantangan struktural industri logistik.
Persaingan Red Ocean dan Tekanan Geopolitik
Kondisi tersebut menuntut peningkatan fleksibilitas layanan, efisiensi operasional, dan kolaborasi lintas ekosistem agar industri tetap kompetitif dan berkelanjutan.
“Pascapandemi, industri logistik memasuki fase yang sangat liberal dengan dibukanya kepemilikan asing hingga 100 persen. Dampaknya, persaingan menjadi semakin padat dan bersifat red ocean. Kondisi ini menuntut pelaku usaha untuk lebih agile, adaptif, dan efisien. Di tengah tekanan geopolitik yang berpotensi menekan profitabilitas, kolaborasi dan strategi bertahan yang tepat menjadi kunci industri tetap resilien,” ujar Harry.
Baca juga: Artajasa Ingatkan Pelaku Industri Keuangan Jangan Sepelekan Risiko Fraud
Pemain Baru Perketat Persaingan
Sementara itu, dari sektor manufaktur otomotif roda dua, Head of Commercial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Sigit Kumala menilai industri sepeda motor pada 2026 akan menghadapi persaingan yang semakin ketat akibat masuknya pemain baru.
AISI bersama Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) mendorong agar arah industri ke depan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan agresif, tetapi juga menjaga kualitas, kesehatan industri, serta keberlanjutan ekosistem dan lingkungan.
Baca juga: Alert! BEI Lakukan Trading Halt usai IHSG Ambles 8 Persen
Ia menjelaskan, pada 2025 pasar sepeda motor nasional masih tumbuh sekitar 1,3 persen dengan penjualan mencapai 6,41 juta unit. Pertumbuhan ini relatif tipis, dengan permintaan di luar Jawa meningkat di kisaran 6-7 persen, sementara Jawa cenderung stagnan sekitar 1 persen.
“Karena itu, ke depan fokus industri tidak hanya pada volume, tetapi bagaimana pertumbuhan dapat berjalan selaras dengan quality dan sustainability,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra









