Jakarta–Bank Indonesia (BI) mengaku, inflasi komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) menjadi tantangan utama pengendalian harga di tahun ini. Di mana Bank Sentral sendiri memperkirakan inflasi tahun ini akan lebih tinggi dibandingkan dengan 2016 lalu.
Demikian pernyataan tersebut seperti disampaikan oleh Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, di Gedung BI, Jakarta, Jumat, 10 Maret 2017. Menurutnya, inflasi tahun ini akan lebih banyak disumbang dari komponen inflasi administered prices.
Baca juga: Respon Fed Rate, BI Lihat Kondisi Inflasi
“Tahun ini tantangan kita di inflasi administered prices yang mana memang administered prices itu berasal dari pengurangan subsidi yang dilakukan pemerintah,” ujar Mirza.
Namun demikian, kata dia, keputusan pemerintah untuk memangkas subsidi listrik di tahun ini merupakan langkah yang tepat, sejalan dengan upaya pemerintah untuk menjaga anggaran lebih sehat dan mengurangi defisit anggaran yang masih cukup tinggi. (Bersambung ke halaman berikutnya)
“Pengurangan subsidi itu memang diperlukan karena anggaran yang lebih sehat kemudian anggaran subsidi bisa digunakan untuk pengeluaran yang lebih produktif dan subsidinya untuk subsidi tepat sasaran dan itu dampaknya lebih baik,” ucap Mirza.
Untuk mengendalikan inflasi yang bersumber dari komponen administered prices di tahun ini, lanjut dia, maka komponen volatile food harus dapat dikendalikan. Sehingga, inflasi secara keseluruhan di tahun ini dapat berada sesuai dengan target pemerintah dan BI yakni 4 persen plus minus 1 persen.
Baca juga: DBS Research Prediksi Inflasi Sentuh 4,5%
“Kita bicara tentang harga telur ayam, harga cabai, harga bawang, harga daging, harga beras dan berbagai macam volatile food yang lain. Di situ kita bicara tentang produksi makanan, distribusi bahan pangan, ongkos transportasi,” tegas Agus.
Oleh sebab itu, kata dia, dibutuhkan koordinasi bersama antara BI, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam menjaga harga-harga pangan yang bisa membuat gejolak pada komponen inflasi volatile food. “Karena kan produksi pangan didaerah, distribusi pangan ada di daerah,” tutupnya. (*)
Editor: Paulus Yoga




