Poin Penting
- Kinerja reksa dana turun ke Rp678,49 triliun pada Maret 2026.
- AUM tetap tumbuh 3,97% secara ytd menjadi Rp1.084 triliun.
- OJK nilai investor memanfaatkan koreksi pasar untuk beli reksa dana.
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa kinerja instrumen investasi reksa dana pada Maret 2026 tercatat sebesar Rp678,49 triliun. Angka tersebut turun dari periode Februari 2026 yang mencapai Rp695,52 triliun.
Menanggapi hal itu, Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK, M. Maulana, menyebut bahwa dari sisi total dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) masih naik sekitar 3,97 persen secara year-to-date (ytd) menjadi Rp1.084 triliun pada Maret 2026.
Menurutnya, kinerja reksa dana masih menunjukkan pertumbuhan jika dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang secara ytd tercatat melemah.
“Indeks sebenarnya sudah turun cukup dalam dari awal tahun, pernah sampai minus 19 persen, walaupun sekarang sudah naik lagi. Namun, reksa dana malah tumbuh, jadi saya bilang tadi AUM-nya naik 3 persen per Maret,” ujar Maulana kepada media dikutip, Selasa, 21 April 2026.
Baca juga: Kontribusi AUM RI Baru 4 Persen, Cek Perbandingan dengan Negara Tetangga
Tentunya dengan capaian tersebut, ia menilai bahwa terdapat kecenderungan investor untuk membeli produk reksa dana saat terjadi koreksi IHSG, meskipun saham yang berkualitas juga mengalami penurunan.
“Investor sudah sadar bahwa kalau ada saham-saham yang murah, bagus, ya dibeli. Jadi waktunya membeli reksa dana,” imbuhnya.
Baca juga: OJK Terlalu Aman? Ketika Stabilitas Semu, LAR Tinggi, dan Beban Kredit BUMN Diam-Diam Menahan Ekonomi
Adapun, OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) akan terus mendorong peningkatan jumlah investor dan memperkuat total dana kelolaan. Upaya ini bertujuan menjadikan reksa dana sebagai alternatif pembiayaan bagi korporasi dan masyarakat. (*)
Editor: Yulian Saputra








