Poin Penting
- ACA meraih dua penghargaan di Infobank Insurance Recognition 2026: The Most Progressive General Insurance dan kinerja sangat baik selama lima tahun berturut-turut
- Penghargaan mencerminkan konsistensi kinerja ACA, berdasarkan penilaian 11 indikator keuangan dan fundamental perusahaan
- ACA terus memperkuat pertumbuhan dan manajemen risiko, dengan aset Rp15,87 triliun dan laba Rp598,69 miliar pada 2025.
Jakarta – PT Asuransi Central Asia (ACA) membuktikannya dengan membawa pulang dua penghargaan dalam ajang “27th Infobank Insurance Recognition 2026” yang digelar Majalah Infobank di The St. Regis Hotel Jakarta, Jumat (14/8/2026).
ACA meraih penghargaan Special Achievement: The Most Progressive General Insurance serta General Insurance with Consistent Excellent Performance for 5 Consecutive Years (2022-2026).
Dua penghargaan tersebut diterima langsung oleh Direktur Utama ACA Juliati Boddhiya didampingi Direktur ACA Muljadi Kusuma dari Chairman Infobank Media Group Eko B. Supriyanto dan Wakil Pimpinan Redaksi Infobank Media Group Kanoto Mohamad.
Pencapaian ini tidak lahir dari penilaian satu indikator semata. Penghargaan diberikan berdasarkan kajian Biro Riset Infobank (birI) terhadap perusahaan-perusahaan asuransi dengan kinerja terbaik, melalui Rating 111 Asuransi Versi Infobank 2026.
Rating tersebut menggunakan laporan keuangan terperiksa dan terpublikasi 111 perusahaan asuransi untuk periode 2024 dan 2025. Tahun ini menjadi semakin penting karena metode pemeringkatan telah diperbarui dengan menyesuaikan penerapan standar akuntansi PSAK 117.
Baca juga: 74 Perusahaan Asuransi Raih Penghargaan “Infobank Insurance Recognition 2026”
Untuk perusahaan asuransi umum, Biro Riset Infobank menggunakan 11 kriteria dalam mengukur kinerja perusahaan.
Penilaian mencakup RBC, likuiditas, kecukupan investasi, pertumbuhan pendapatan jasa asuransi, pertumbuhan laba bersih, hasil jasa asuransi, beban asuransi, tingkat pengembalian modal dan aset, hasil investasi, serta pendapatan jasa asuransi terhadap modal sendiri.
Dari rangkaian indikator tersebut, perusahaan kemudian dikategorikan ke dalam predikat “Sangat Bagus”, “Bagus”, “Cukup Bagus”, atau “Tidak Bagus”. Dengan metodologi tersebut, penghargaan yang diraih ACA mencerminkan penilaian atas kinerja dan fundamental perusahaan secara lebih menyeluruh.
Ajang yang telah diselenggarakan sejak 1999 itu kini memasuki penyelenggaraan ke-27. Penghargaan sekaligus menjadi ruang bagi industri untuk melihat perusahaan-perusahaan yang mampu menjaga performa ketika sektor asuransi menghadapi perubahan regulasi, tuntutan digitalisasi, dinamika risiko, dan kebutuhan nasabah yang semakin beragam.
Menjaga Keseimbangan
Di bawah kepemimpinan Juliati Boddhiya, ACA terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kehati-hatian dalam pengelolaan risiko.
Laporan keuangan ACA menunjukkan total aset pada akhir 2025 sekitar Rp15,87 triliun, dengan ekuitas Rp8,50 triliun dan laba setelah pajak Rp598,69 miliar. Pada periode yang sama, ACA juga mencatat laba usaha asuransi Rp583,50 miliar.
Memasuki 2026, tantangan bagi perusahaan asuransi tidak semakin sederhana. Perubahan perilaku nasabah, perkembangan teknologi, tuntutan kecepatan layanan, hingga kebutuhan perlindungan terhadap berbagai risiko menuntut perusahaan untuk terus beradaptasi.
Karena itu, penghargaan The Most Progressive General Insurance menjadi relevan dengan upaya ACA menjaga momentum pengembangan bisnis sekaligus memperkuat kualitas layanan.
Sebelumnya, kinerja ACA juga menunjukkan perbaikan dalam pengelolaan risiko. Per Juli 2025, misalnya, ACA mencatat premi bruto Rp2,66 triliun, meningkat dari Rp2,08 triliun pada periode yang sama 2024.
Rasio klaim juga membaik menjadi 43,68 persen dari 47,59 persen setahun sebelumnya. Perbaikan tersebut ditopang antara lain oleh seleksi risiko, pricing berbasis data, optimalisasi reasuransi, edukasi mitigasi risiko, hingga penguatan proses klaim dan anti-fraud.
Strategi tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ACA tidak hanya dikejar melalui ekspansi bisnis, tetapi juga melalui upaya menjaga kualitas portofolio dan kesehatan perusahaan.
Bagi industri asuransi, pendekatan seperti ini penting karena kemampuan memberikan perlindungan kepada nasabah pada akhirnya bergantung pada kekuatan perusahaan dalam mengelola risiko dan memenuhi kewajiban ketika terjadi klaim.
Di sisi layanan, transformasi digital menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perubahan perilaku nasabah. Kecepatan memperoleh informasi, kemudahan mengakses produk, proses administrasi yang semakin praktis, hingga respons terhadap klaim menjadi bagian dari pengalaman yang ikut menentukan kepercayaan nasabah.
Bagi Juliati, penguatan fundamental tersebut perlu berjalan bersama dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kemampuan perusahaan membaca perubahan.
Rekam jejak kepemimpinannya juga sebelumnya mendapat pengakuan melalui penghargaan CEO of The Year 2025 dari Infobank Media Group, yang diberikan atas kepemimpinan, kinerja, serta kontribusinya terhadap pertumbuhan industri jasa keuangan.
Dua penghargaan yang diterima ACA tahun ini pun memperkuat gambaran tersebut. Predikat The Most Progressive General Insurance merefleksikan kemampuan perusahaan bergerak mengikuti perubahan.
Sementara penghargaan konsistensi lima tahun menunjukkan bahwa pertumbuhan tersebut tetap dijaga dalam rentang waktu yang panjang.
Baca juga: OJK Dorong Asuransi Perkuat Ekosistem UMKM Daerah
Bagi perusahaan asuransi, performa tidak hanya diukur dari seberapa besar bisnis yang berhasil dibukukan. Ukuran lainnya adalah seberapa kuat perusahaan menjaga kepercayaan, memberikan perlindungan ketika nasabah membutuhkan, mengelola risiko secara disiplin, dan terus menghadirkan layanan yang relevan.
Di titik itu, dua penghargaan ACA di Infobank Insurance Recognition 2026 menjadi penanda perjalanan yang masih berlanjut.
Konsistensi selama lima tahun sekaligus predikat perusahaan asuransi umum paling progresif menunjukkan pekerjaan berikutnya bukan sekadar mempertahankan pencapaian, tetapi memastikan momentum tersebut terus menghasilkan manfaat bagi nasabah, industri, dan perekonomian yang lebih luas. (*) Ranu Arasyki Lubis


