BI Klaim Harga BBM Tak Naik Bisa Bantu Redam Tekanan Rupiah

BI Klaim Harga BBM Tak Naik Bisa Bantu Redam Tekanan Rupiah

Poin Penting

  • Kebijakan pemerintah menahan kenaikan harga BBM bersubsidi dinilai membantu meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah
  • Tekanan rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS (DXY) yang menekan banyak mata uang global
  • Pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi aman hingga akhir 2026, didukung simulasi harga minyak dan bantalan anggaran (SAL) Rp420 triliun.

Jakarta – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan kebijakan pemerintah untuk tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi turut membantu meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Dengan kebijakan pemerintah tidak menaikkan harga BBM, khususnya untuk yang subsidi BBM kelompok masyarakat bawah, saya rasa ini menjadi suatu hal juga yang akan sangat positif untuk bisa menahan rupiah kedepannya,” ujar Destry dalam Central Banking forum 2026, Senin 13 April 2026.

Destry menyatakan tekanan terhadap rupiah sejauh ini disebabkan karena indeks dolar AS (DXY) yang menguat. Kondisi itu membuat pergerakan dolar AS menekan berbagai mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Baca juga: Mirae Asset Sebut Tekanan Eksternal Masih Bayangi IHSG dan Rupiah

“Apakah Indonesia sendirian? Nggak. Sejak adanya serangan di Iran beberapa negara ada depresiasi dalam. Kita juga minus 1,91 persen di posisi year to date. Pergerakan nilai tukar tidak sendirian,” jelas Destry.

Sebelumnya, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kondisi keuangan negara masih kuat untuk meredam kenaikan harga minyak dunia.

“Kami siap tidak menaikkan sampai akhir tahun untuk BBM bersubsidi, sampai akhir tahun aman. Jadi masyarakat tahu, tidak usah ribut, tidak usah takut. Kita sudah hitung,” ujar Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin, 6 April 2026.

Purbaya menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario untuk meredam dampak kenaikan harga minyak dunia. Ia menyebutkan pemerintah telah menyusun simulasi untuk berbagai tingkat harga minyak, yakni pada kisaran USD80 hingga USD100 per barel.

Baca juga: BI Beberkan 3 Jalur Dampak Perang AS-Israel dan Iran ke Ekonomi Global

“Kita sudah hitung asumsi harga minyak dunia USD100 (per barel) rata-rata sepanjang 2026 dan dengan exercise tertentu (defisit) anggaran bisa kita tekan di 2,92 persen dari PDB. Jadi, sepanjang tahun ini dengan harga rata-rata USD100 per barel aman,” katanya.

Purbaya menyatakan, pihaknya memiliki cukup anggaran untuk menahan kenaikan harga minyak mentah dunia. Anggaran yang tersedia berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun.

“Itu merupakan bantalan tersendiri kalau diperlukan. Kalau harga minyak naik tinggi sekali, misalnya, nggak terkendali,” jelasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Related Posts

[popular_posts period="24" limit="5" show_views="false"]

News Update

Netizen +62