Perundingan Iran-AS Gagal, 2 Isu Ini jadi Ganjalan

Perundingan Iran-AS Gagal, 2 Isu Ini jadi Ganjalan

Poin Penting:

  • Perundingan Iran-AS gagal akibat dua isu utama: program nuklir dan kontrol Selat Hormuz.
  • Proposal kedua negara menunjukkan perbedaan mendasar antara tuntutan strategis Iran dan pendekatan keamanan maksimalis AS.
  • Kegagalan di Islamabad menunjukkan jarak kepentingan yang terlalu lebar meski ruang dialog masih terbuka.

Jakarta – Ketegangan geopolitik kembali memuncak setelah perundingan Iran-Amerika Serikat (AS) gagal mencapai titik temu dalam pembicaraan intensif yang digelar di Islamabad, Pakistan. Kegagalan ini menegaskan betapa dalamnya jurang kepentingan kedua negara, terutama menyangkut isu nuklir dan kontrol atas Selat Hormuz.

Dalam beberapa pekan terakhir, dunia menyaksikan meningkatnya eskalasi antara AS dan Iran pasca-serangan pada 28 Februari yang menewaskan Ali Khamenei serta menimbulkan lebih dari 3.000 korban jiwa. Respons balasan Teheran melalui serangan drone dan rudal memperluas kawasan terdampak, termasuk Israel, Yordania, Irak, dan wilayah Teluk.

Baca juga: Trump Sesumbar Hancurkan Iran dalam Semalam: Mungkin Selasa Malam

Meski gencatan senjata dua pekan berhasil disepakati pada 7 April setelah mediasi Pakistan, ketegangan tetap terasa. Iran mencurigai motif Washington, sementara AS diduga memperkuat posisinya di Selat Hormuz.

Perundingan Iran-AS Gagal karena 2 Isu Utama

Di tengah jeda rapuh tersebut, kedua negara mengajukan proposal yang mencerminkan perbedaan mendasar. Pada akhirnya, perundingan Iran-AS gagal disebabkan dua isu krusial: program nuklir dan kontrol strategis Selat Hormuz.

Proposal Iran

Selama masa gencatan senjata, Teheran menyampaikan 10 poin tuntutan. Iran menekankan penghentian total operasi militer AS, jaminan tidak ada serangan lanjutan, dan kompensasi akibat kerusakan perang.

Poin penting lain yaitu penghapusan seluruh sanksi ekonomi, pengakuan hak pengayaan uranium, pembatalan resolusi Dewan Gubernur IAEA, pengurangan kehadiran militer AS di Timur Tengah, serta kontrol strategis Iran atas jalur energi global, termasuk Selat Hormuz.

Proposal AS

Berbeda dengan Teheran, Washington mengajukan 15 poin yang menitikberatkan keamanan dan pembatasan kemampuan strategis Iran. Dalam proposal tersebut, pemerintahan Donald Trump menuntut penghentian total pengayaan uranium.

Selain itu, AS juga menuntut Iran menyerahkan stok uranium yang telah diproduksi, penghentian produksi rudal dan pembongkaran fasilitas senjata, jaminan keterbukaan Selat Hormuz, serta wacana pengelolaan tarif Selat Hormuz bersama.

Teheran menolak proposal AS setelah menilai tuntutan tersebut “berlebihan dan tidak realistis”.

Baca juga: OJK Wanti-wanti Efek Domino Konflik AS–Iran ke Kredit Perbankan

Ganjalan Utama: Nuklir & Hormuz

Dari keseluruhan perdebatan, dua isu paling keras menjadi penghambat. Pertama, program nuklir Iran, yang menjadi syarat mutlak AS untuk dibatasi.

Kedua, kontrol atas Selat Hormuz. Iran bersikeras mempertahankan kehadiran militernya, sementara AS menginginkan jaminan penuh keterbukaan jalur energi global.

Situasi makin rumit ketika Israel kembali melancarkan serangan udara ke Lebanon hanya sehari setelah gencatan senjata disepakati. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai serangan itu dapat membuat negosiasi sia-sia.

Pembicaraan Maraton Tanpa Kesepakatan

Pertemuan di Islamabad pada 11 April yang berlangsung hingga 25 jam dipimpin oleh Wakil Presiden AS J.D. Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. Dari pihak AS hadir pula utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Namun, hasilnya nihil. Vance menyatakan mereka telah menguraikan batas kompromi yang mungkin, tetapi Iran tidak menerima tawaran tersebut. Juru Bicara Kemenlu Iran Esmail Bagaei menegaskan masih ada “dua hingga tiga isu krusial” yang belum disepakati.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnim, Selat Hormuz menjadi salah satu isu paling sulit dijembatani.

Optimisme Tipis untuk Perundingan Lanjutan

Meski perundingan Iran-AS gagal, peluang diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Trump menilai sebagian besar poin sudah dibahas, meskipun isu nuklir masih buntu. AS juga sedang mempersiapkan blokade angkatan laut di Selat Hormuz bersama beberapa negara.

Pengamat hubungan internasional Andrea Abdul Rahman Azzqy menilai titik tengah hanya mungkin dicapai apabila Iran memperoleh “jaminan keamanan dan kedaulatan”. Ia juga menilai bahwa mekanisme pengawasan bersama di Selat Hormuz lebih realistis ketimbang dominasi sepihak.

Bagi kawasan, gencatan senjata dua pekan ini bukan akhir, melainkan awal fase negosiasi yang jauh lebih rumit.

Baca juga: Skenario Pengakhiran Perang AS-Israel Versus Iran

Perundingan Iran-AS Gagal Menunjukkan Jurang Kepentingan

Perundingan Iran-AS gagal justru mencerminkan betapa sulitnya mencari titik temu antara kebutuhan keamanan AS dan tuntutan kedaulatan Iran. Dengan masih lebarnya jurang kepentingan, masa depan stabilitas kawasan bergantung pada komitmen kedua negara untuk membuka ruang kompromi. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

[popular_posts period="24" limit="5" show_views="false"]

News Update

Netizen +62