Poin Penting
- Ruang penurunan suku bunga makin sempit, BI fokus pada stabilitas di tengah ketidakpastian global.
- Imbal hasil SRBI akan dinaikkan untuk menarik modal asing dan menjaga stabilitas rupiah.
- BI perkuat koordinasi fiskal-moneter, termasuk pembelian SBN Rp90,05 triliun hingga Maret 2026.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) memberi sinyal bahwa ruang penurunan suku bunga acuan semakin tertutup imbas eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin tinggi.
Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, otoritas moneter tengah melakukan rekalibrasi kebijakan dengan prioritas memperkuat stabilitas dan ketahanan terhadap tekanan global.
“Meskipun BI Rate kami pertahankan 4,75 persen, nampaknya ke depan ruang untuk penurunannya kemungkinan semakin lama semakin tertutup, dan kami pun juga harus kemudian menyikapinya untuk menggunakan untuk stabilitas,” kata Perry dalam rapat kerja bersama DPR RI, Rabu, 8 April 2026.
Baca juga: Imbas Perang Timur Tengah, BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen di Maret 2026
SRBI Dinaikkan untuk Tarik Modal Asing
Selain menjaga suku bunga acuan, BI juga akan menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal masuk (capital inflow) serta menstabilkan nilai tukar rupiah.
“Kenapa sekarang untuk tahun 2026 SRBI-nya mulai akan naik, ini agar memang kami harus juga mem-balance antara keperluan menstabilkan nilai tukar, intervensi dan juga bagaimana supaya outflow tidak terlalu buruk,” ungkapnya.
Baca juga: LPEM UI Sarankan BI Tahan Suku Bunga di 4,75 Persen, Ini Alasannya
Perry menjelaskan, sebelumnya BI menurunkan imbal hasil SRBI secara agresif. Namun, kini diperlukan penyesuaian untuk menjaga kesimbangan stabilitas pasar keuangan, dengan tetap memastikan likuiditas perbankan memadai.
“Ini memang harus kita lakukan rekalibrasi supaya menarik tapi tetap kecukupan likuiditas perbankan kita jaga. M0-nya tetap double digit bahkan 13,3 persen kami jaga supaya kecukupan likuidtas tercapai,” pungkasnya.
BI Perkuat Sinergi dengan Pemerintah
Selain itu, BI terus membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bentuk koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Hingga Maret 2026, pembelian SBN oleh BI tercatat mencapai Rp90,05 triliun.
“Ini adalah beberapa rekalibrasi di mana kebijakan moneter memang bobotnya lebih banyak untuk pro-stability,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra










