Poin Penting
- Lo Kheng Hong terus mengakumulasi saham DILD dan GJTL sepanjang awal 2026 saat harga berfluktuasi.
- Strategi pembelian dilakukan saat harga turun, sesuai prinsip value investing yang ia pegang.
- Perjalanan hidupnya dari pegawai bank bergaji kecil hingga investor sukses menjadi inspirasi di pasar modal Indonesia.
Jakarta – Aksi Lo Kheng Hong kembali menjadi sorotan pasar. Investor kawakan tersebut tercatat terus mengakumulasi saham PT Intiland Development Tbk. (DILD) dan PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL) sepanjang awal 2026, mempertegas strategi value investing yang selama ini ia pegang.
Data terbaru hingga April 2026 menunjukkan peningkatan kepemilikan signifikan pada kedua emiten tersebut, di tengah pergerakan harga saham yang cenderung fluktuatif.
Baca juga: Gajah Tunggal Group Sumbang 300 Ribu Masker Kepada TNI
Tambah Kepemilikan GJTL di April 2026
Per 7 April 2026, saham GJTL ditutup di level Rp1.090 atau turun 1,80 persen pada hari tersebut, namun masih mencatat kenaikan 4,31 persen secara year to date (YtD). Di tengah kondisi tersebut, Lo Kheng Hong justru menambah kepemilikannya.
Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Selasa, 7 April 2026, Lo Kheng Hong mengakuisisi 1.240.000 lembar saham GJTL pada 2 April 2026. Transaksi ini meningkatkan total kepemilikannya menjadi 219,47 juta lembar saham atau setara 6,30 persen.
Aksi tersebut merupakan kelanjutan dari akumulasi yang telah dilakukan sepanjang Maret 2026, menandakan keyakinan jangka panjang terhadap kinerja emiten tersebut.
Kepercayaan pada Saham DILD saat Harga Turun
Selain GJTL, Lo Kheng Hong juga terus menambah porsi di saham DILD. Per 1 April 2026, kepemilikannya mencapai 707.053.000 lembar saham atau setara 6,82 persen.
Jumlah ini meningkat dibanding posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar 695.069.100 lembar saham atau 6,7 persen. Artinya, sepanjang awal 2026, ia telah mengakumulasi tambahan sekitar 11,98 juta lembar saham.
Harga saham DILD sendiri berada di level Rp123 per lembar dan telah terkoreksi sekitar 12,77 persen secara YtD. Namun penurunan tersebut justru dimanfaatkan sebagai peluang beli.
Saat dikonfirmasi, Lo Kheng Hong mengungkapkan alasannya secara singkat. “[Alasan beli] hanya harganya lagi turun saja,” ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan pendekatan klasik value investing, yakni membeli saham saat harga berada di bawah nilai intrinsiknya.
Profil Lo Kheng Hong: Dari Pegawai Bank ke Investor Sukses
Lo Kheng Hong lahir pada 20 Februari 1959 di Jakarta dan dikenal sebagai salah satu investor individu paling sukses di Indonesia. Ia kerap dijuluki “Warren Buffett Indonesia” berkat konsistensinya menerapkan strategi investasi jangka panjang.
Perjalanannya dimulai dari kondisi sederhana. Setelah lulus SMA, ia tidak langsung melanjutkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi.
“Ketika saya tamat SMA, orang tua saya tidak punya uang untuk saya bisa melanjutkan kuliah,” ujarnya, dikutip situs resmi Universitas Nasional (Unas).
Ia kemudian bekerja sebagai pegawai tata usaha di bank dengan gaji Rp50.000 per bulan pada 1979, sambil kuliah malam di Universitas Nasional (Unas).
“Lampunya masih lampu kuning, remang-remang,” kenangnya.
Selama 11 tahun bekerja, kariernya relatif stagnan. Namun titik balik terjadi pada 1988 saat deregulasi perbankan membuka peluang baru, dan gajinya melonjak signifikan setelah pindah kerja.
Baca juga: KB Bank Kucurkan Pembiayaan Rp250 Miliar Dorong Pengembangan Kawasan Industri Intiland
Konsisten dengan Value Investing
Sejak awal bekerja, Lo Kheng Hong sudah membangun kebiasaan berinvestasi saham. Ia menolak menyimpan uang di deposito dan memilih membeli saham perusahaan yang dinilai murah.
“Kalau adik-adik mahasiswa buka website Bank Danamon, muncul nama saya sebagai pemegang saham nomor lima,” ujarnya.
Ia juga menegaskan filosofi investasinya: “Uang besar itu hanya didapat dari tidur yang panjang.”
Sebagai investor berpengalaman sejak 1980-an, ia telah melewati berbagai krisis besar, termasuk 1998 dan pandemi 2020.
“Always invest in bad time—ketika semua orang takut, saat itulah saya membeli saham,” pesannya.
Saat ini, sekitar 99 persen kekayaannya ditempatkan di saham, tanpa alokasi pada deposito atau obligasi. Ia meyakini saham tetap menjadi instrumen terbaik karena menawarkan dividen dan potensi capital gain yang tinggi. (*)
Editor: Yulian Saputra










