Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Begini Respons BI

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Begini Respons BI

Poin Penting

  • Rupiah ditutup melemah 70 poin (0,41 persen) ke Rp17.105 per dolar AS, menjadi level terlemah sepanjang sejarah melampaui posisi saat krisis 1998.
  • BI menegaskan fokus utama pada stabilitas nilai tukar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter, termasuk intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF offshore
  • Tekanan global akibat konflik Timur Tengah dinilai berdampak dua arah, namun potensi kenaikan harga komoditas sebagai negara eksportir dapat membantu meredam pelemahan rupiah.

Jakarta – Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan pada Selasa (7/4/2026) melemah 70 poin atau 0,41 persen ke level Rp17.105 per dolar AS dari perdagangan sebelumnya.

Angka tersebut merupakan rekor terlemah sepanjang sejarah, setelah krisis moneter 1998 yang berada di level Rp16.800 per dolar AS.

Menanggapi hal tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi otoritas moneter.

Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Tembus Level Rp17.076

“Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” kata Destry dalam keterangannya, Selasa, 7 April 2026.

Destry menegaskan, BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) maupun Non-deliverable forward (NDF) di offshore market.

Destry menjelaskan bahwa ⁠dampak konflik Timur Tengah bersifat dua arah, di mana kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara ekspotir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian domestik.

Baca juga: Jaga Rupiah, BI Tambah Jurus Baru Gunakan SVBI dan SUVBI untuk Repo Valas

Menurutnya, dengan kondisi tersebut dapat meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut,” ungkapnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Related Posts

News Update

Netizen +62