Poin Penting:
- Anggota DPR mendesak pemerintah segera intervensi pasar menyusul harga plastik naik yang membebani UMKM.
- Pemerintah tengah menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga keberlangsungan usaha kecil di tengah lonjakan biaya bahan baku.
- Krisis energi global dan gangguan pasokan migas menjadi pemicu utama kenaikan harga plastik hingga 80 persen.
Jakarta – Kenaikan harga plastik menjadi sorotan DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI, Firnando Ganinduto, mendesak pemerintah segera melakukan intervensi pasar untuk melindungi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari dampak harga plastik naik yang kian membebani biaya produksi.
Ia meminta Kementerian Perdagangan mengambil langkah strategis untuk mengendalikan harga serta menjamin ketersediaan bahan baku di dalam negeri. Menurutnya, stabilitas pasokan menjadi kunci agar UMKM tetap bertahan di tengah gejolak global.
“Pemerintah perlu segera melakukan stabilisasi melalui pengawasan distribusi bahan baku serta penguatan industri petrokimia nasional agar ketergantungan terhadap pasokan global bisa dikurangi,” ujar Firnando dalam keterangan pers, dikutip Antara, Senin, 6 April 2026.
Baca juga: Harga Plastik Melonjak Dampak Perang Iran, Apa Langkah Pemerintah?
Pemerintah Akan Siapkan Mitigasi Dampak Harga Plastik Naik
Pemerintah mengakui bahwa fenomena kenaikan harga plastik tidak bisa dihindari akibat tekanan eksternal. Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menyampaikan pihaknya tengah membahas langkah mitigasi guna menjaga keberlangsungan usaha kecil.
Ia menjelaskan bahwa lonjakan harga bahan baku plastik dipicu oleh ketidakpastian pasokan global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah. Kondisi ini telah dirasakan langsung oleh pelaku UMKM, terutama yang bergantung pada kemasan plastik.
“Sudah ada aspirasi yang masuk. Kebutuhan plastik untuk bungkus produk memang naik … Tapi kami akan siapkan mitigasinya,” kata Maman.
Maman menambahkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk merumuskan langkah konkret. Namun, detail kebijakan masih dalam tahap pembahasan teknis.
Lonjakan Harga Plastik Dipicu Krisis Energi Global
Di pasar domestik, harga plastik naik dilaporkan mencapai 30-80 persen. Kenaikan ini dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku utama seperti nafta akibat memanasnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Gangguan distribusi serta kenaikan harga minyak global turut memperparah kondisi. Akibatnya, biaya produksi meningkat dan berpotensi mendorong kenaikan harga barang jadi, terutama produk UMKM yang menggunakan plastik sebagai kemasan.
Baca juga: Viral MBG Pakai Kantong Plastik, Ini Klarifikasi SPPG dan Penegasan SOP BGN
DPR dan MPR Ingatkan Antisipasi Dampak Lanjutan
Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi dampak lanjutan dari krisis energi global terhadap berbagai komoditas berbasis hidrokarbon.
“Sejumlah kebutuhan esensial yang bahan bakunya bersumber dari minyak dan gas telah atau akan mengalami kenaikan harga,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa tidak hanya plastik, tetapi juga pupuk, obat-obatan, hingga pakaian jadi berpotensi mengalami kenaikan harga karena biaya produksi yang meningkat.
Eddy mengapresiasi langkah pemerintah menahan kenaikan harga BBM demi menjaga daya beli masyarakat. Namun, ia menekankan pentingnya langkah antisipatif terhadap gejolak harga ke depan.
“Pemerintah perlu mengantisipasi kenaikan harga produk plastik seperti kemasan mi instan, air minum kemasan, peralatan rumah tangga dan lain-lain. Harga pangan otomatis juga akan mengalami karena kenaikan harga pupuk yang menggunakan bahan baku gas telah naik juga,” katanya.
Selain itu, ia mendorong adanya program efisiensi nasional, termasuk penghematan energi dan pengurangan penggunaan plastik melalui daur ulang.
“Namun demikian sebagai anggota masyarakat kita juga punya tanggung jawab untuk melakukan aksi penghematan energi serta daur ulang, khususnya plastik,” ungkapnya. (*)
Editor: Yulian Saputra










