Poin Penting
- DSSA mengintegrasikan bisnis energi berkelanjutan dan infrastruktur digital sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang, melalui EBT, digitalisasi operasional, dan solusi berbasis AI
- Pengembangan panas bumi di enam wilayah dengan potensi 440 MW serta penguatan tenaga surya lewat pabrik panel 1 GW di KEK Kendal, disertai praktik tambang yang lebih efisien dan rendah emisi.
- Akselerasi bisnis digital: Perluasan jaringan fiber 57.000 km, 9 juta homepass, dan 1 juta pelanggan MyRepublic, ditopang pengembangan data center (24 edge + Tier-IV Jakarta).
Jakarta – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) kian menegaskan arah transformasi bisnisnya dengan memadukan penguatan energi dan infrastruktur digital sebagai pilar pertumbuhan jangka panjang perseroan.
Hal tersebut diwujudkan melalui percepatan adopsi energi baru terbarukan (EBT), transformasi praktik pertambangan berkelanjutan, serta perluasan infrastruktur digital melalui solusi AI dan pemerataan akses informasi.
Fokus Pengembangan EBT
Bagi DSSA, sektor energi tetap menjadi fondasi bisnis dengan fokus pada operasional yang efisien dan berkelanjutan.
Saat ini, DSSA terus mengembangkan portofolio panas bumi dengan mengakselerasi eksplorasi di enam wilayah strategis untuk mencapai total potensi 440 megawatt (MW).
Adapun enam wilayah tersebut meliputi Cisolok dan Cipanas di Jawa Barat, hingga Sumatera, Flores, dan Sulawesi Tengah.
Portofolio EBT lainnya yang diperkuat DSSA melalui tenaga surya, yang diwujudkan melalui pengoperasian pabrik panel surya terintegrasi 1 GW di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal.
Lokita Prasetya, Wakil Presiden Direktur DSSA menjelaskan, perseroan secara bertahap mengembangkan sumber energi yang lebih rendah emisi sebagai bagian dari strategi jangka panjang perseroan.
“Sejalan dengan itu, kami juga terus memperkuat operational excellence melalui penerapan praktik yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan—mulai dari peningkatan efisiensi, optimalisasi penggunaan energi dan sumber daya, digitalisasi operasional, hingga pengurangan emisi dan limbah secara terukur,” ujarnya dalam Media Gathering di Jakarta, 2 April 2026.
Baca juga: Masuk MSCI, Saham DSSA dan CUAN Kompak Ngegas
Perkuat Infrastruktur Digital
Tak hanya EBT, DSSA juga terus memperkuat bisnis di sektor infrastruktur digital & teknologi untuk mendukung kebutuhan konektivitas dan pengelolaan data di Indonesia.
Di kesempatan yang sama, Marlo Budiman, CEO PT DSST Mas Gemilang (DSST) menjelaskan, langkah strategis tersebut diperkuat melalui kemitraan dengan iFLYTEK untuk mengakselerasi transformasi digital berbasis AI di Indonesia, termasuk pengembangan berbagai solusi AI (AI use-case) & kapabilitas analitik berbasis LLM (Large Language Model) SPARK.
“Pertumbuhan kebutuhan data dan konektivitas menjadi pendorong utama pengembangan bisnis digital kami. Kami melihat peluang besar untuk mendorong pemerataan penetrasi digital dengan menjawab kesenjangan yang ada, sekaligus menghadirkan solusi berbasis AI yang mudah diakses,” ujar Marlo.
Saat ini, DSSA juga mengoperasikan jaringan fiber optic sekitar 57.000 km, dengan lebih dari 9 juta homepass dan sekitar 1 juta pelanggan broadband melalui MyRepublic Indonesia.
Dia mengatakan, pendapatan MyRepublic konsisten mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada 2024, kata Marlo, kontribusi MyRepublic terhadap pendapatan DSSA mencapai 4 persen. Setahun kemudian, mengalami kenaikan menjadi 8 persen.
“Tahun ini, kita targetkan pertumbuhan pendapatannya bisa mencapai double digit,” jelasnya.
Baca juga: IBM: Kedaulatan Digital Jadi Kunci Masa Depan Ekonomi RI
Penguatan infrastruktur ini juga didukung oleh pengembangan jaringan data center nasional yang mencakup 24 Edge Data Center di 23 pasar strategis dari Medan hingga Manado untuk memastikan pemrosesan data dengan latensi rendah.
Selain itu, perseroan tengah menyiapkan Flagship Hub Jakarta SMX01, sebuah fasilitas Tier-IV AI-ready berkapasitas awal 18 MW di jantung CBD Jakarta yang dijadwalkan mulai beroperasi pada semester kedua 2026.
Peluang pasar masih terbuka besar, dengan sekitar 50 juta masyarakat yang belum terlayani internet secara optimal dan potensi pasar telekomunikasi nasional mencapai sekitar USD29 miliar.
Pasar fixed broadband sendiri diproyeksikan tumbuh sekitar 10 persen setiap tahun dalam beberapa tahun ke depan.
Untuk menangkap peluang tersebut, DSSA menjalankan berbagai inisiatif strategis, termasuk penguatan jaringan fiber melalui Moratelindo, pengembangan data center, serta eksplorasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). (*)










