Poin Penting
- DPK perbankan pada Februari 2026 mencapai Rp9.449,1 triliun, naik 9,2 persen (yoy), turun dari 10,8 persen (yoy) Januari
- Penyaluran kredit Rp8.420,5 triliun, naik 8,9 persen (yoy), melambat dari 10,2 persen (yoy); ditopang kredit korporasi dan perorangan meski pertumbuhannya menurun
- Perlambatan di hampir semua jenis kredit: KMK, KI, dan KK sama-sama melambat; kontraksi kredit kendaraan bermotor serta pelemahan sektor tertentu menahan kinerja.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan pada Februari 2026 tercatat sebesar Rp9.449,1 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan (year on year/yoy). Ini melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 10,8 persen (yoy).
Perkembangan tersebut didorong oleh seluruh komponennya yaitu giro, tabungan, dan simpanan berjangka yang tumbuh masing-masing sebesar 17,6 persen (yoy), 7,7 persen (yoy), dan 3,7 persen (yoy), setelah mengalami pertumbuhan pada bulan sebelumnya masing masing sebesar 19,0 persen (yoy), 8,8 persen (yoy), dan 5,7 persen (yoy).
Berdasarkan golongan nasabah, perkembangan DPK dipengaruhi oleh pertumbuhan DPK korporasi, perorangan, dan nasabah lainnya yang tumbuh masing-masing sebesar 15,9 persen (yoy), 2,4 persen (yoy), dan 7,3 persen (yoy). Ini melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 18,2 persen (yoy), 3,2 persen (yoy), dan 9,6 persen (yoy).
Baca juga: Jika NPL Itu Tindak Pidana, Tutup Saja Banknya, Pak Presiden
Sementara itu, kredit yang disalurkan oleh perbankan pada Februari 2026 tumbuh positif. Penyaluran kredit pada Februari 2026 tercatat sebesar Rp8.420,5 triliun atau tumbuh 8,9 persen (yoy), setelah mengalami pertumbuhan sebesar 10,2 persen (yoy) pada Januari 2026.
Penyaluran kredit yang positif tersebut utamanya didorong oleh penyaluran kredit kepada debitur korporasi dan perorangan yang tumbuh masing-masing sebesar 13,8 persen (yoy) dan 3,2 persen (yoy), meski lebih rendah dari pertumbuhan 15,2 persen (yoy) dan 4,3 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Modal Kerja (KMK) pada Februari 2026 tumbuh sebesar 3,7 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 4,7 persen (yoy).
Perkembangan KMK pada Februari 2026 terutama dipengaruhi oleh penurunan penyaluran kredit pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan, serta pertambangan dan penggalian.
Adapun Kredit Investasi (KI) pada Februari 2026 tetap tumbuh tinggi 20,0 persen (yoy), meski menurun dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 22,0 persen (yoy).
Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan serta kontraksi pertumbuhan penyaluran kredit pada sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan.
Selanjutnya, Kredit Konsumsi (KK) pada Februari 2026 tumbuh sebesar 6,3 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Januari 2026 sebesar 7,2 persen (yoy). Ini dipengaruhi oleh perkembangan Kredit Kendaraan Bermotor yang mengalami kontraksi sebesar 7,9 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan Januari 2026 yang juga mengalami kontraksi sebesar 9,9 persen (yoy).
Baca juga: Optimalisasi DPK Jadi Strategi Bank dalam Menjaga Daya Saing di 2026
Selain itu, Kredit Multiguna dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) juga mengalami perlambatan pertumbuhan masing-masing menjadi sebesar 8,7 persen (yoy) dan 5,0 persen (yoy).
Sementara suku bunga kredit dan suku bunga simpanan pada Februari 2026 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada Februari 2026 sebesar 8,78 persen, sedikit menurun dibandingkan suku bunga kredit bulan sebelumnya sebesar 8,79 persen.
Di samping itu, suku bunga simpanan berjangka juga menurun terutama pada tenor 6 bulan, 12 bulan, dan 24 bulan, masing-masing sebesar 4,56 persen, 4,50 persen, dan 4,28 persen, dibandingkan dengan 4,62 persen, 4,52 persen, dan 4,30 persen pada Januari 2026. (*)
Editor: Galih Pratama










