Hadapi Krisis Hormuz, AS Minta Dukungan Lebih Luas dari Sekutu

Hadapi Krisis Hormuz, AS Minta Dukungan Lebih Luas dari Sekutu

Poin Penting:

  • AS meminta dukungan lebih luas dari sekutu untuk mengatasi krisis Hormuz yang berdampak pada keamanan dan energi global.
  • Eskalasi konflik AS-Israel dengan Iran mengganggu distribusi migas melalui Hormuz dan memicu lonjakan harga energi.
  • Iran menegaskan tidak ada negosiasi dengan AS meski komunikasi melalui perantara tetap berlangsung.

Jakarta – Krisis di Selat Hormuz kian menjadi perhatian dunia. Amerika Serikat (AS) mendorong lebih banyak dukungan dari sekutu untuk mengatasi krisis Hormuz yang berdampak luas terhadap stabilitas keamanan dan harga energi global.

Duta Besar AS untuk NATO, Matthew Whitaker, menyebut sejumlah sekutu mulai berkontribusi dalam penanganan krisis Hormuz. Namun, Washington menilai keterlibatan tersebut masih belum cukup.

“Kami memiliki sekutu yang akhirnya mulai bergerak … Ada sekutu kunci yang berkontribusi dan menyediakan berbagai dukungan. Kami hanya menginginkan lebih banyak lagi,” ujar Whitaker kepada Fox Business, seperti dikutip Antara, Kamis, 26 Maret 2026.

Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah setelah Libur Lebaran, Masih Dipicu Konflik AS-Iran

AS Intensifkan Diplomasi untuk Krisis Hormuz

Whitaker menegaskan, AS kini bekerja secara intensif melalui jalur diplomatik guna meyakinkan negara-negara di Eropa dan Timur Tengah agar lebih aktif terlibat dalam merespons krisis Hormuz.

“Sayangnya, perlu upaya meyakinkan bahwa isu ini lebih penting bagi mereka dibandingkan bagi Amerika Serikat,” kata Whitaker.

Menurutnya, situasi di Hormuz sangat krusial karena menjadi jalur utama distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada lonjakan harga energi global.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada 14 Maret menyerukan kepada sejumlah negara, termasuk China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, untuk mengirim kapal perang guna menjaga keamanan pelayaran di Hormuz. Ia bahkan memperingatkan sekutu NATO bahwa aliansi tersebut menghadapi “masa depan yang sangat buruk” jika gagal mengamankan wilayah tersebut.

Di sisi lain, Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyatakan bahwa negara-negara Uni Eropa belum siap mengirim armada militer ke kawasan itu.

Eskalasi Konflik Picu Gangguan Pasokan Energi

Ketegangan di Hormuz tidak lepas dari eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran. Pada 28 Februari, AS bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban sipil.

Iran kemudian merespons dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah. Aksi saling serang ini memicu gangguan distribusi migas melalui Hormuz dan mendorong kenaikan harga energi dunia.

Baca juga: Pasokan Minyak Terancam, Trump Cari Dukungan Global Buka Selat Hormuz

Iran Tegaskan Tidak Ada Negosiasi dengan AS

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak sedang melakukan negosiasi dengan AS untuk mengakhiri konflik di kawasan Hormuz.

Ia mengakui adanya penyampaian pesan dari Washington melalui berbagai perantara, tetapi menegaskan hal tersebut bukan bagian dari proses negosiasi.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut sejumlah pejabat tinggi seperti Marco Rubio, J.D. Vance, Steve Witkoff, serta Jared Kushner terlibat dalam tim negosiasi dengan Iran.

Trump bahkan mengeklaim pembicaraan terus berlanjut dan menunjukkan keseriusan Iran untuk mencari solusi. Namun, klaim tersebut dibantah oleh Kementerian Luar Negeri Iran.

Konflik ini awalnya diklaim AS dan Israel sebagai upaya meredam ancaman dari program nuklir Iran. Namun kemudian, keduanya menyatakan tujuan lebih jauh, yakni mendorong perubahan kekuasaan di Iran. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62