Poin Penting
- OJK memberi sinyal 2-3 bank KBMI III berpotensi naik kelas menjadi KBMI IV pada 2026 karena permodalannya sudah mendekati batas minimal.
- Kelompok bank KBMI III menunjukkan kinerja solid, dengan pangsa aset 26,94%, kredit 27,39%, dan DPK 27,28% dari total industri perbankan nasional.
- Meski pertumbuhan kredit dan dana masih kuat, tantangan tetap ada, terutama pada profitabilitas, basis dana murah (CASA), serta permintaan kredit yang belum sepenuhnya pulih.
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberi sinyal bahwa terdapat 2 hingga 3 bank KBMI 3 yang berpeluang naik kelas menjadi KBMI 4 pada tahun ini.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan sejumlah bank sudah mengajukan peningkatan kelompok berdasarkan modal inti tersebut.
“Tahun ini kalau saya perkirakan mungkin sekitar 2 atau 3 (potensi bank naik kelas menjadi KBMI 4),” kata Dian saat ditemui di Mahkamah Agung, Rabu 25 Maret 2026.
Menurut Dian, permodalan bank-bank tersebut sudah sangat mendekati batas minimal untuk masuk ke kelompok KBMI 4.
“Sejauh ini beberapa bank sudah mengajukan, hanya angkanya pun kalau dilihat itu sudah tipis sebetulnya, hanya tinggal sedikit saja sudah masuk ke KBMI 4,” jelasnya.
Baca juga: OJK Dorong Bank KBMI I Naik Kelas, Begini Tanggapan BOII
Ia menegaskan, OJK akan terus mendorong perbankan meningkatkan kapasitas permodalannya agar dapat naik kelas. Menurutnya, bank dengan modal yang lebih besar memiliki model bisnis yang lebih berkelanjutan dan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
“Oleh karena itu kita akan dorong karena ini kan lebih sustain dan lebih memiliki daya dorong terhadap perekonomian yang jauh lebih besar lagi,” ungkap Dian.
Struktur KBMI 3 dan Komposisi Bank
Berdasarkan Data Biro Riset Infobank (birI) per Oktober 2025, kelompok KBMI 3 dihuni oleh 15 bank dengan latar belakang kepemilikan yang beragam.
Di kelompok ini terdapat bank pelat merah seperti BTN, BSI, dan Bank BJB. Dari swasta asing, ada Bank CIMB Niaga milik Malaysia dan Bank UOB Indonesia dari Singapura, ditambah bank-bank berdarah Jepang dan lainnya.
Selain itu, terdapat bank milik konglomerasi lokal seperti Bank Mega di bawah CT Corp dan PaninBank dari Grup Panin. Komposisi tersebut membuat KBMI 3 memiliki kekuatan modal serta jaringan bisnis yang cukup solid.
Baca juga: Konsisten Tambah Modal, Amar Bank Siap Naik Kelas ke KBMI 2
Dari sisi kinerja, kelompok KBMI 3 tidak bisa dipandang sebelah mata. Pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga (DPK), aset, hingga laba kelompok ini masih berada di atas rata-rata industri perbankan nasional.
Tanpa dominasi ala KBMI 4, Bank KBMI 3 justru berperan sebagai mesin pertumbuhan yang konsisten dan relatif stabil.
Mesin Pertumbuhan Industri Perbankan
Posisi strategis itu juga menjadikan KBMI 3 sebagai penantang paling masuk akal bagi bank-bank besar. Model bisnis mereka cenderung lebih fokus, adaptif, dan dekat dengan sektor riil. Masing-masing bank punya ceruk yang jelas dan tidak asal besar.
BTN, misalnya, sangat kuat di pembiayaan perumahan. BSI menancapkan posisi di ekosistem halal dan konsumer syariah. Bank CIMB Niaga unggul di segmen ritel dan korporasi menengah, sementara Bank Mega mengandalkan kekuatan konglomerasi. Kekuatan yang tersegmentasi inilah yang membuat Bank KBMI 3 tetap jadi tumpuan pasar.
Baca juga: Bank KBMI 4 Main Universal Banking, Tetap Dominan tapi Makin Homogen
Per Oktober 2025, KBMI 3 menguasai 26,94 persen pangsa aset perbankan nasional. Pangsa kreditnya mencapai 27,39 persen, dan DPK sebesar 27,28 persen. Menariknya, angka-angka ini relatif stabil dalam tiga tahun terakhir. Artinya, meski ditekan dari dua arah, posisi KBMI 3 masih cukup kokoh.
Pertumbuhan Kredit Masih Kencang
Dari sisi pertumbuhan, kredit KBMI 3 tumbuh 15,11 persen secara tahunan menjadi Rp2.278,73 triliun. DPK melonjak 24,02 persen menjadi Rp2.661,43 triliun, sementara total aset naik 18,36 persen menjadi Rp3.561,12 triliun. Angka ini menunjukkan kemampuan intermediasi yang masih ngebut.
Kalau dibedah per bank, BSI mencatat pertumbuhan double digit di aset, DPK, dan pembiayaan. BTN unggul di pertumbuhan DPK sebesar 15,96 persen dan masih mendominasi pangsa aset, kredit, serta DPK di KBMI 3. Di sisi bank swasta, Bank DBS Indonesia paling agresif di kredit dengan pertumbuhan 22,89 persen, Bank UOB Indonesia unggul di laba yang melonjak 131,31 persen, sementara Bank Mega paling jago menghimpun dana dengan pertumbuhan DPK 26,29 persen.
Tapi, tidak semua cerita KBMI 3 manis. Panin Bank mencatat kontraksi kredit 4,72 persen dan DPK 2,02 persen yang membuat labanya turun 4,37 persen. Maybank Indonesia juga mengalami kontraksi kredit, sementara laba SMBC Indonesia dan HSBC Indonesia masing-masing turun 23,85 persen dan 19,37 persen. Ini jadi pengingat bahwa tekanan di kelompok ini nyata.
Tekanan utama Bank KBMI 3 ada di profitabilitas. Basis dana murah (CASA) mereka belum sekuat KBMI 4, tapi juga tidak sebebas KBMI 2 untuk agresif menaikkan bunga. Dengan CASA rata-rata 40 persen-60 persen, ruang menekan biaya dana jadi terbatas. Kontribusi laba KBMI 3 ke industri pun baru 17,89 persen, dengan pertumbuhan laba 13,47 persen.
Baca juga: Urgensi Bank KBMI I Didorong Naik Kelas
Dari sisi permintaan kredit, tantangannya juga belum selesai. Banyak bank KBMI 3 mencatat penurunan loan to deposit ratio (LDR), menandakan likuiditas ada tapi belum tersalurkan optimal. Di Bank CIMB Niaga, misalnya, LDR turun dari 84,29 persen ke 81,06 persen dan NIM ikut turun. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menegaskan bahwa masalahnya ada di demand.
“Dari sisi liquidity terlihat membaik sehingga cost of fund berangsur turun. Kami harapkan ke depan ini juga menurunkan rate kredit,” ujarnya kepada Infobank Januari lalu.
Senada tapi lebih optimistis, Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, “Biaya dana sudah mulai turun sejak semester kedua 2025 sehingga tekanan terhadap likuiditas menurun. Indeks keyakinan konsumen juga mulai naik sehingga diharapkan kredit membaik,”. (*)
Editor: Yulian Saputra










