Poin Penting
- Ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2% dari total ekspor, sehingga dampak langsung konflik dinilai relatif kecil.
- Ketegangan di Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz, berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dan biaya logistik global.
- Kenaikan harga energi berpotensi mengangkat batu bara dan CPO, sehingga masih dapat menopang kinerja ekspor Indonesia.
Jakarta – Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi meningkatkan volatilitas harga energi global serta biaya logistik perdagangan internasional. Namun demikian, dampak langsung terhadap perdagangan Indonesia diperkirakan relatif terbatas karena rendahnya eksposur perdagangan dengan kawasan tersebut.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Indonesia Eximbank Institute menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya mencapai sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional. Komoditas utama yang diekspor meliputi minyak kelapa sawit, perhiasan, serta kendaraan bermotor.
Sementara itu, impor Indonesia dari kawasan tersebut berada di kisaran 3,9 persen dari total impor nasional dan didominasi oleh komoditas energi, khususnya minyak. Struktur ini mencerminkan bahwa keterkaitan perdagangan langsung Indonesia dengan kawasan konflik relatif kecil.
Sebagian besar ekspor Indonesia justru mengalir ke kawasan lain seperti Asia Timur (36,4 persen), Asia Tenggara (20,8 persen), Amerika Utara (11,5 persen), Asia Selatan (9,6 persen), dan Eropa Barat (5,7 persen). Dengan demikian, dinamika ekonomi di kawasan-kawasan tersebut tetap menjadi penentu utama kinerja ekspor nasional.
Baca juga: Realisasi Penyaluran PKE LPEI 2025 Capai Rp13,5 Triliun, Melesat 85 Persen
Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan konflik, terutama terkait stabilitas jalur energi global.
“Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia,” ujarnya, Jumat, 20 Maret 2026.
Menurutnya, kawasan Timur Tengah memiliki peran vital dalam sistem energi global dengan kontribusi lebih dari 30 persen produksi minyak dunia. Sekitar 20-30 persen perdagangan minyak global juga melewati Selat Hormuz. Gangguan pada jalur ini berpotensi mendorong lonjakan harga energi sekaligus meningkatkan biaya logistik perdagangan internasional.
Meski impor minyak Indonesia tidak secara langsung berasal dari Timur Tengah, dampak tidak langsung tetap signifikan. Sekitar 75 persen impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia, yang menjadi pusat perdagangan dan pengolahan minyak regional.
Kedua negara tersebut mengandalkan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah, sehingga gangguan pasokan akan berdampak pada harga energi yang dihadapi Indonesia.
Tekanan pada Industri dan Nilai Tukar
Indonesia Eximbank Institute, kata dia, juga mencermati potensi dampak terhadap negara-negara pengimpor utama minyak Timur Tengah seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan.
Baca juga: LPEI Gandeng IIF Perkuat Integrasi ESG dan Persiapan Aksesi OECD
Negara-negara tersebut merupakan mitra dagang utama Indonesia. Kenaikan biaya energi berpotensi menekan aktivitas industri dan mengurangi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.
“Jika ketegangan geopolitik berlanjut dalam jangka panjang, harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan berada di kisaran USD85 hingga USD120 per barel, lebih tinggi dibandingkan rata-rata awal tahun yang masih sekitar US$60 per barel,” bebernya.
Sementara, kenaikan harga energi dan biaya logistik diperkirakan akan meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global. Bagi Indonesia, tekanan ini akan terasa pada sektor dengan ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor seperti manufaktur, petrokimia, dan logam dasar.
Selain itu, volatilitas pasar keuangan global juga berpotensi menekan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia. Pelemahan nilai tukar dapat meningkatkan biaya impor bahan baku dan memperbesar tekanan terhadap industri berorientasi ekspor.
Komoditas Energi dan Agro Berpotensi Diuntungkan
Di tengah risiko tersebut, sejumlah komoditas ekspor Indonesia justru berpotensi diuntungkan. Harga batu bara diperkirakan terdorong naik, sementara minyak kelapa sawit (CPO) tetap menunjukkan tren kuat seiring solidnya permintaan global.
“Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi,” kata Rini.
Dengan mempertimbangkan dinamika tersebut, ekspor Indonesia pada 2026 diproyeksikan masih tumbuh di kisaran 4-5 persen, dan berpotensi meningkat menjadi 5-6 persen pada 2027, dengan catatan pemulihan permintaan global dan meredanya tensi geopolitik. (*)
Editor: Yulian Saputra










