Dampak Perang Timur Tengah, BI Tarik Sinyal Penurunan Suku Bunga

Dampak Perang Timur Tengah, BI Tarik Sinyal Penurunan Suku Bunga

Poin Penting

  • BI tidak lagi memberi sinyal penurunan suku bunga akibat meningkatnya risiko global dari eskalasi perang di Timur Tengah.
  • Tekanan eksternal meningkat, mulai dari kenaikan harga minyak, arus modal keluar, penguatan dolar AS, hingga naiknya yield obligasi global.
  • BI berfokus menjaga stabilitas rupiah, dengan kombinasi intervensi pasar, penguatan cadangan devisa, serta mempertahankan BI Rate di level 4,75%.

Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan bank sentral untuk sementara tidak lagi menyampaikan peluang penurunan suku bunga acuan (BI Rate) yang sebelumnya sempat diisyaratkan pada 2026.

Keputusan ini dipengaruhi eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong BI lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Perry menjelaskan, BI telah menghitung intensitas dan potensi dampak konflik terhadap berbagai indikator ekonomi, mulai dari harga minyak dunia, inflasi, hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Dampak konflik juga mulai terasa di pasar keuangan global. Arus modal asing keluar dan menekan nilai tukar di negara emerging market, termasuk Indonesia, seiring penguatan dolar AS.

Selain itu, kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury turut mendorong naiknya suku bunga dan yield obligasi pemerintah di berbagai negara berkembang.

“Skenario-skenario ini yang kemudian kita dari sisi instrumen kami akan terus mengkalibrasi optimalitas antara kebijakan intervensi untuk stabilisasi nilai tukar rupiah, kecukupan cadangan devisa, dan juga respons mengenai suku bunga. Tentu saja kalibrasi optimalitas antara ketiganya ini akan tergantung pada seberapa jauh eskalasi perang timur-tengah akan berlanjut,” ujar Perry dalam RDG, Selasa 17 Maret 2026.

Baca juga: Imbas Perang Timur Tengah, BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen di Maret 2026

BI Siapkan Berbagai Skenario

Meski telah menyiapkan berbagai skenario, BI menilai masih terlalu dini untuk mengambil langkah lanjutan. Bank sentral akan terus memantau tiga instrumen tersebut, yakni intervensi pasar, kecukupan cadangan devisa, dan kebijakan suku bunga.

“Kami sudah punya skenario-skenario, skenario kalau harga minyaknya tentu saja tidak terlalu tinggi, skenario menengah kalau harga meningkatnya agak menengah, dan juga kalau terjadi eskalasi harga minyak tinggi,” imbuhnya.

Baca juga: Airlangga Beberkan Skenario Dampak Lonjakan Harga Minyak, Defisit APBN Bisa Tembus 4 Persen

Dengan kondisi ini, BI belum menentukan arah kebijakan ke depan, namun berpotensi mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.

“Dampak perang Timur Tengah ini memang, kenapa kami dalam pernyataan ini tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga. Sehingga itu kami hilangkan dari pernyataan ini karena memang kemungkinan kami akan tetap mempertahankan BI Rate selama ini,” bebernya.

Langkah Stabilisasi Rupiah Diperkuat

BI juga menyiapkan langkah tambahan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui operasi moneter di berbagai instrumen, guna menahan arus keluar modal asing dan mendorong aliran dana kembali ke dalam negeri.

Mulai April 2026, BI memperkuat kebijakan transaksi pasar valas, antara lain:

  • Penurunan threshold pembelian valas dari USD100 ribu menjadi USD50 ribu per pelaku per bulan
  • Peningkatan threshold jual DNDF/forward dari USD5 juta menjadi USD10 juta per transaksi
  • Peningkatan threshold transaksi swap dari USD5 juta menjadi USD10 juta per transaksi.

Selain itu, BI memperketat pelaporan Lalu Lintas Devisa (LLD) dengan menurunkan batas kewajiban dokumen transfer keluar negeri dari USD100 ribu menjadi USD50 ribu.

“Itulah langkah yang terus kami lakukan, intinya Bank Indonesia berkomitmen penuh dan all out akan menjaga stabilitas nilai tukar dengan berbagai instrumen-instrumen yang kami punyai di kebijakan moneter,” imbuhnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62