Point Penting
- Pendapatan 2025 capai Rp7,87 triliun, sementara kerugian berhasil ditekan 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya berkat penguatan operasional dan efisiensi.
- Sepanjang 2025, Indonesia AirAsia mengangkut 5,91 juta penumpang dengan load factor 83 persen, dengan penjualan kursi menjadi kontributor utama pendapatan Rp6,62 triliun.
- Pendapatan tambahan (ancillary) mencapai Rp1,25 triliun naik 3 persen, sementara efisiensi operasional menurunkan CASK 1,4 persen meski terdampak pelemahan dolar AS dan perawatan pesawat.
Jakarta – PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) mencatatkan pendapatan sebesar Rp7,87 triliun untuk tahun buku 2025. Capaian ini sekaligus berhasil menurunkan kerugian sebesar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Utama CMPP, Captain Achmad Sadikin Abdurachman, mengatakan perbaikan kinerja ini mencerminkan penguatan operasional maskapai di tengah dinamika industri penerbangan yang masih menghadapi tantangan biaya operasional dan fluktuasi nilai tukar.
“Sepanjang tahun 2025 kami fokus memperkuat konektivitas penerbangan sekaligus menjaga efisiensi operasional. Upaya tersebut memungkinkan Indonesia AirAsia menurunkan kerugian di tengah tantangan industri penerbangan yang masih menghadapi tekanan biaya operasional,” ucapnya dalam keterangan resmi dikutip, 16 Maret 2026.
Baca juga: Kemenhub Alihkan 24 Penerbangan Halim ke Soekarno-Hatta
Sepanjang 2025, perseroan melalui anak perusahaannya Indonesia AirAsia telah mengangkut 5,91 juta penumpang dengan tingkat keterisian kursi atau load factor sebesar 83 persen di seluruh jaringan penerbangannya.
Berdasarkan hal tersebut, pos penjualan kursi tetap menjadi kontributor pendapatan terbesar senilai Rp6,62 triliun.
Sementara pendapatan tambahan (ancillary revenue) seperti bagasi, layanan selama penerbangan, kargo, charter, serta layanan tambahan lainnya menyumbang Rp1,25 triliun naik 3 persen jika dibandingkan dengan tahun 2024.
Kinerja operasional pada 2025 dipengaruhi oleh menurunnya kapasitas penerbangan yang bersifat sementara, seiring dengan jadwal perawatan pesawat yang merupakan bagian penting dari standar keselamatan dan keandalan operasional maskapai.
Baca juga: BRI-Air Asia Kerja Sama Pembayaran Tiket
Program perawatan ini berdampak pada berkurangnya kapasitas kursi yang tersedia pada beberapa periode sepanjang tahun.
Keberhasilan ini dicapai di tengah dinamika nilai tukar, di mana depresiasi dolar AS sebesar 3,8 persen turut memberikan tekanan terhadap biaya operasional yang sebagian besar berbasis mata uang asing.
Meski demikian, berbagai langkah efisiensi berhasil menurunkan Cost per Available Seat Kilometre (CASK) sebesar 1,4 persen dibandingkan tahun 2024. (*)
Editor: Galih Pratama










