Perang AS-Iran Masih Memanas, Rupiah Dibuka Melemah

Perang AS-Iran Masih Memanas, Rupiah Dibuka Melemah

Poin Penting

  • Rupiah melemah di pembukaan perdagangan ke level Rp16.971 per dolar AS, turun 0,08 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.958 per dolar AS.
  • Eskalasi konflik AS-Iran mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven, dengan indeks dolar (DXY) naik di atas 100,3, tertinggi sejak Mei 2025.
  • Pasar menanti keputusan suku bunga The Fed, dengan investor saat ini hanya memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga sepanjang 2026.

Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan hari ini, Senin (16/3/2026). Rupiah dibuka di level Rp16.971 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,08 persen dibandingkan penutupan Jumat pekan lalu di Rp16.958 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, dalam perkembangan terbaru, AS menyerang sejumlah target militer Iran di pusat ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg pada akhir pekan. Washington juga mengancam akan memperluas serangan ke infrastruktur energi jika Teheran mengganggu jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.

“Pasar juga tengah mencermati laporan bahwa AS akan segera mengumumkan pembentukan koalisi sejumlah negara untuk mengawal kapal-kapal yang melintasi jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global tersebut,” kata Andry, Senin, 16 Maret 2026.

Baca juga: OJK: Pelemahan Rupiah Tak Banyak Berdampak ke Neraca Bank

Indeks dolar AS (DXY) naik di atas 100,3, level tertingginya sejak pertengahan Mei 2025. Penguatan ini menandai kenaikan mingguan kedua berturut-turut karena pelaku pasar memilih dolar AS sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya konflik dengan Iran serta belum adanya prospek penyelesaian dalam waktu dekat.

Andry menambahkan, Federal Reserve (the Fed) akan memutuskan kebijakan moneter pekan ini. Meski suku bunga atau fed federal funds (FFR) diperkirakan tetap, pasar akan mencermati sinyal kebijakan untuk sisa tahun ini, terutama terkait perkembangan inflasiyang dipengaruhi kenaikan harga energi.

“Saat ini investor hanya memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada tahun 2026,” ujar Andry.

Arah Kebijakan Bank Sentral Global

Menurut Andry, perkembangan konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasokan energi akan menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan pasar global serta keputusan suku bunga dari otoritas moneter utama dunia.

“Setelah The Fed, penetapan kebijakan juga akan dilakukan oleh bank sentral negara maju (G10) seperti ECB, BoJ, BoE, SNB, RBA, dan BoC,” tambah Andry.

Baca juga: Rupiah Tertekan Konflik Timur Tengah, Dibuka di Level Rp16.923 per Dolar AS

Dengan kondisi tersebut, Andry memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.894 hingga Rp16.985 per dolar AS sepanjang hari ini.

“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di sekitar Rp16.894 dan Rp16.985 per dolar AS,” pungkasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62