Poin Penting
- PT BNI Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran 7.200-10.800 sepanjang 2026 berdasarkan pendekatan valuasi
- IHSG dinilai masih menarik karena rasio price to earnings (PE) dan price to book value (PBV) berada di level rendah
- Indikator earnings yield spread terhadap obligasi menunjukkan investasi di saham masih lebih menarik.
Jakarta – PT BNI Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak di kisaran 7.200 hingga 10.800 dalam satu tahun ke depan atau sepanjang 2026.
“Target IHSG kita secara valuasi ada di berapa sih untuk tahun ini? Jadi dari BNI Sekuritas standar kita itu di range 7.200 hingga 10.800 untuk satu tahun ke depan berdasarkan pendekatan valuasi,” ujar Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas dalam Ramadhan Market Update BNI Sekuritas, Rabu, 11 Maret 2026.
Fanny mengatakan pihaknya masih optimis dengan IHSG, seiring valuasi pasar saham domestik yang cukup murah. Dari sisi valuasi, IHSG masih berada pada level yang cukup menarik bila dilihat dari rasio price to eranings (PE) maupun price to book value (PBV). Rasio PE IHSG saat ini mendekati minus dua standar deviasi di bawah rata-rata historisnya.
Baca juga: Transparansi dan Reformasi Dorong Pasar Modal Indonesia Naik Kelas
“Kalau kita lihat dari segi PE maupun dari segi PBV, ini masih cukup murah. Karena kalau kita ambil aja contoh dari segi PE untuk IHSG, PE-nya itu masih dekat-dekat sekitar minus dua standar deviasi di bawah rata-rata. Yang di mana level ini itu hampir tidak pernah terlihat hampir 20 tahun gitu ya, sekitar 20 tahun. Jadi menurut kita IHSG itu masih cukup murah gitu ya,” jelasnya.
Fanny menambahkan, indikator earnings yield spread terhadap obligasi juga menandakan saham masih lebih menarik dibandingkan dengan bonds.
“Earnings yield spread over bonds ini menandakan sebetulnya untuk investor itu akan lebih menarik mereka investasi di equity dibandingkan dengan bonds,” tambahnya.
Baca juga: Simak! BNI Sekuritas Beberkan Strategi Investasi Saat Pasar Saham Tertekan
Selain itu, sebagian besar sektor berada di bawah minus satu standar deviasidari rata-rata valuasi historisnya. Artinya, mayoritas sektor di Bursa efek Indonesia (BEI) yang diperdagangkan saat ini pada valuasi tergolong murah.
“Dari segi one year forward untuk PE valuation per sektor, ini rata-rata nih hampir semua sektor itu udah di bawah minus satu standar deviasi. Yang artinya sebetulnya banyak sektor kita ini udah cukup murah,” imbuhnya.
Adapun sejumlah sektor yang dinilai cukup menarik secara valuasi adalah consumer non-cyclicals, financials, dan sektor kesehatan. (*)
Editor: Galih Pratama










