Kinerja Masih Tertekan, Perbarindo Minta BPR Fokus Perkuat Layanan Mikro

Kinerja Masih Tertekan, Perbarindo Minta BPR Fokus Perkuat Layanan Mikro

Poin Penting

  • Industri BPR terdampak ketidakstabilan ekonomi global dan regional, mendorong Perbarindo mengajak kembali ke fokus layanan mikro
  • BPR diimbau fokus pada pembayaran mikro, menjaga kepercayaan masyarakat, dan tata kelola dana pihak ketiga
  • Kinerja 2025 positif meski NPL tinggi – DPK Rp151,51 triliun (+5,37% yoy), kredit Rp158,75 triliun (+5,57% yoy), laba Rp3,67 triliun (+24,06% yoy), NPL 11,83%.

Jakarta – Industri Bank Perekonomian Rakyat (BPR) menghadapi perlambatan kinerja sepanjang setahun terakhir. Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) menyebut faktor global dan ketidakstabilan ekonomi menjadi penyebab utama.

“Secara prinsip, perlambatan ini terjadi karena ada faktor global dan regional yang memang penuh ketidakpastian,” kata Tedy Alamsyah, Ketua Umum Perbarindo, saat ditemui Infobanknews dalam acara buka bersama Perbarindo, Selasa (10/3/2026).

Tedy menilai periode ini cukup menantang bagi industri BPR. Untuk menghadapi situasi tersebut, ia mengajak para pelaku BPR untuk kembali ke “muruah” atau fokus melayani masyarakat mikro, pasar utama BPR.

Baca juga: OJK Ungkap Kronologi Pencabutan Izin Usaha BPR Koperindo Jaya

“Pertama, industri harus kembali ke akar, yaitu pembayaran mikro dan kecil. Kedua, memastikan kepercayaan masyarakat, khususnya dana pihak ketiga, dihimpun dengan tata kelola yang baik,” tegasnya.

Menurut Tedy, BPR merupakan contoh nyata circular economy, menghimpun dan menyalurkan dana dari rakyat untuk rakyat. Dengan model ini, kontribusi BPR terhadap masyarakat diharapkan meningkat.

Momentum Ramadan yang akan berlanjut ke Idulfitri juga dinilai sebagai kesempatan mendorong kinerja. “Harapannya, bulan puasa dan menjelang lebaran menjadi trigger pertumbuhan ekonomi sektor mikro dan kecil,” tutupnya.

Baca juga: OJK Sebut BPR Ramai-Ramai Antre Merger, Ini Tujuannya

Kinerja Industri BPR 2025

Menutup 2025, industri BPR konvensional mencatat perbaikan intermediasi. Dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp151,51 triliun, naik 5,37 persen year on year (yoy) dibanding Desember 2024.

Selanjutnya, realisasi kredit tumbuh 5,57 persen (yoy) menjadi Rp158,75 triliun, meski rasio non-performing loan (NPL) masih tinggi di 11,83 persen.

Secara profitabilitas, laba industri melonjak 24,06 persen (yoy) menjadi Rp3,67 triliun, sedangkan aset tumbuh 6,91 persen (yoy) ke posisi Rp279,51 triliun. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Related Posts

News Update

Netizen +62