Poin Penting
- IHSG tertekan akibat sentimen geopolitik global dan penurunan outlook Indonesia oleh Moody’s dan Fitch.
- Keputusan MSCI pada April–Mei 2026 dinilai menjadi katalis penting bagi arah pasar saham RI.
- Risiko turun ke frontier market kecil, sementara investasi dana pensiun dan asuransi berpotensi menopang pasar.
Jakarta – Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini tecermin dari tren pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang masih berlanjut.
Selain faktor geopolitik global yang meningkatkan volatilitas pasar, sentimen negatif dari lembaga pemeringkat kredit internasional terhadap ekonomi Indonesia juga turut menekan pergerakan pasar saham domestik.
Baca juga: IHSG Sepekan Tertekan, BEI Tegaskan Infrastruktur Bursa Tetap Solid
Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Farras Farhan mengatakan, perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada keputusan lembaga riset global Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait evaluasi pasar saham Indonesia.
“Memang katalis saat ini terutama equity market itu tertuju pada hasil keputusan MSCI di April atau Mei. Apabila ada kejelasan dari MSCI itu sendiri, maka itu dapat menjadi salah satu katalis positif bagi equity market kita,” ujar Farhan dalam sebuah paparan virtual, Selasa, 10 Maret 2026.
Pasar Modal RI Hadapi “Triple Threat”
Farhan menjelaskan, pasar modal Indonesia saat ini menghadapi tiga risiko sekaligus atau triple threat. Pertama, adanya evaluasi dari MSCI terkait posisi pasar saham Indonesia dalam indeks global.
Selain itu, tekanan juga datang dari perubahan outlook lembaga pemeringkat internasional. Moody’s Ratings dan Fitch Ratings diketahui menurunkan outlook ekonomi Indonesia dari stabil pada 2025 menjadi negatif pada 2026.
Baca juga: 5 Saham Ini jadi Faktor Pemberat IHSG dalam Sepekan
Meski demikian, ia menilai kemungkinan penurunan peringkat pasar saham Indonesia hingga masuk kategori frontier market relatif kecil.
“Kalaupun terjadi (penurunan peringkat) itu probabilitinya relatif kecil, bisa dibilang di bawah 10 persen. Dan memang kita lebih mengespektasikan akan adanya down weight. Itu yang memang sudah kita ekspektasikan pada momentum ini,” jelasnya.
Investasi Institusi Bisa Jadi Penopang
Menurut Farhan, potensi downweight dari MSCI diperkirakan tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap pasar saham domestik.
Baca juga: Tanggapan Wakil Ketua DEN soal Penurunan Rating Moody’s dan Rebalancing Indeks MSCI
Hal itu karena masih terdapat sejumlah katalis positif yang dapat menopang kinerja pasar modal Indonesia ke depan. Salah satunya adalah kebijakan yang memungkinkan perusahaan dana pensiun dan asuransi meningkatkan alokasi investasi di pasar saham hingga 20 persen.
“Memang yang saat ini dibutuhkan katalis di equity market RI lebih kepada investability issue. Karena, bila kita bicara secara fundamental, banyak perusahaan mengespektasikan akan ada pertumbuhan di tahun ini dibandingkan tahun lalu,” tegas Farhan. (*) Steven Widjaja










