Poin Penting
- IHSG sepekan turun 6,33 persen dan sempat menyentuh 7.156,68, terendah secara ytd, dipicu ketidakpastian geopolitik dan isu MSCI.
- BEI memastikan infrastruktur dan regulasi pasar siap menghadapi volatilitas yang terjadi.
- IHSG rebound ke 7.460,73 (+1,68 persen) pada pembukaan 10 Maret, didukung net foreign buy Rp749,85 miliar meski ytd masih outflow Rp20,39 triliun.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan masih mengalami pelemahan sebesar 6,33 persen dan sempat turun ke level 7.156,68. Posisi tersebut menjadi level terendah IHSG secara year-to-date (ytd).
Pelemahan IHSG dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, pasar juga masih mencermati isu bobot pasar saham Indonesia dalam indeks MSCI serta risiko kredit yang disorot lembaga pemeringkat asing.
Merespons kondisi tersebut, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa sistem infrastruktur dan regulasi di bursa domestik telah siap menghadapi dinamika pasar saat ini.
Baca juga: BEI Perkenalkan IDX Mobile Sharia, Permudah Akses Investasi Saham Syariah
Menurut Jeffrey, tekanan yang terjadi kali ini tidak sedalam kondisi pada April 2025 yang dipicu kebijakan Amerika Serikat (AS) yang tidak dapat diantisipasi publik.
“Pada saat itu apa yang kita alami lebih buruk dalam konteks pasar daripada hari ini. Oleh karena itu sistem infrastruktur dan peraturan di bursa kita sudah siap untuk menghadapi dinamika pasar yang sedang ada,” ucap Jeffrey kepada media dikutip, 10 Maret 2026.
Pembukaan IHSG
Pada pembukaan perdagangan hari ini (10/3) pukul 09.00 WIB, IHSG berhasil rebound ke posisi 7.460,73 dari level sebelumnya di 7.337,36 atau menguat 1,68 persen.
Pergerakan pasar menunjukkan mayoritas saham berada di zona hijau. Tercatat sebanyak 379 saham menguat, sementara 83 saham melemah dan 159 saham lainnya stagnan.
Baca juga: BEI Mulai Publikasikan Data Pemegang Saham di Atas 1 Persen
Selain itu, pada perdagangan Senin (9/3) investor asing juga tercatat kembali melakukan aksi beli bersih (net foreign buy) di pasar saham domestik sebesar Rp749,85 miliar.
Meski demikian, secara ytd, aliran dana asing masih mencatatkan keluar bersih (outflow) sebesar Rp20,39 triliun. (*)
Editor: Galih Pratama










