Harga Minyak Tembus USD100, Bursa Saham Asia Rontok Akibat Konflik Timur Tengah

Harga Minyak Tembus USD100, Bursa Saham Asia Rontok Akibat Konflik Timur Tengah

Poin Penting

  • Harga minyak dunia melonjak hingga sekitar USD111 per barel, pertama kali menembus USD100 sejak invasi Rusia ke Ukraina 2022 akibat konflik di Timur Tengah.
  • Gangguan pasokan energi meningkat setelah Iran menghentikan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak global.
  • Pasar saham Asia terpukul, dengan Nikkei 225 anjlok lebih dari 7%, KOSPI turun lebih dari 8%, dan Hang Seng Index melemah hampir 3%.

Jakarta – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga melampaui 100 dolar AS per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah serangan militer bersama Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

Minyak mentah acuan global Brent Crude Oil bahkan sempat naik lebih dari 20 persen pada perdagangan Minggu (8/3) dan mencapai sekitar USD111 per barel. 

Kenaikan harga minyak ini menjadi yang pertama kali melampaui level USD100 sejak pecahnya invasi Rusia ke Ukraina 2022.

Diketahui, lonjakan harga dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah. Iran dilaporkan menghentikan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus USD92 per Barel, Defisit APBN Terancam Melebar?

Presiden AS Donald Trump menepis kekhawatiran terkait lonjakan harga tersebut. Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump menyebut kenaikan harga minyak hanya bersifat sementara.

“Harga minyak jangka pendek adalah harga kecil yang harus dibayar demi keselamatan dan perdamaian AS dan dunia,” kata Trump, dikutip Al Jazeera, Senin, 9 Maret 2026.

Senada dengan itu, Menteri Energi AS, Chris Wright mengatakan kenaikan harga energi hanya bersifat sementara dan tidak akan berlangsung lama.

Produksi Minyak Teluk Mulai Terganggu

Namun eskalasi konflik juga mulai memicu gangguan produksi energi di kawasan Teluk. Tiga produsen besar dalam OPEC — Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait — dilaporkan mengurangi produksi karena meningkatnya cadangan minyak yang tidak dapat dikirim akibat penutupan jalur pelayaran.

Baca juga: Prasasti: Konflik AS-Iran jadi Momentum Investor Borong Aset Keuangan

Ketegangan juga meningkat setelah Israel melakukan serangan udara terhadap infrastruktur minyak Iran. Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya empat fasilitas penyimpanan minyak dan pusat transfer produksi di Teheran serta Provinsi Alborz menjadi sasaran.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan bahwa fasilitas energi di kawasan Teluk dapat menjadi target berikutnya. IRGC bahkan memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga USD200 per barel jika konflik terus berlanjut.

Guncang Pasar Saham Global

Kenaikan harga energi tersebut mulai mengguncang pasar keuangan global. Bursa saham Asia dibuka melemah pada perdagangan Senin (9/3).

Indeks Nikkei 225 di Jepang sempat anjlok lebih dari 7 persen, sementara indeks KOSPI Korea Selatan turun lebih dari 8 persen. Di Hong Kong, indeks Hang Seng Index juga melemah hampir 3 persen.

Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund pun memperkirakan kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dapat mendorong inflasi global sekitar 0,4 persen serta menekan pertumbuhan ekonomi dunia hingga 0,15 persen.

Baca juga: Harga Minyak Terancam Melonjak, Celios Dorong Transisi Energi dan Revisi APBN

Sementara itu, Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi memperingatkan kemungkinan penghentian produksi oleh sejumlah negara eksportir jika konflik berkepanjangan.

“Semua eksportir di kawasan Teluk mungkin akan mengajukan force majeure jika situasi ini terus berlanjut,” kata Al-Kaabi dalam wawancara dengan Financial Times.

“Jika gangguan pasokan semakin meluas, harga minyak berpotensi mencapai 150 dolar AS per barel,” pungkasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62