BSI Bidik Transaksi Emas Naik Dua Kali Lipat pada 2026

BSI Bidik Transaksi Emas Naik Dua Kali Lipat pada 2026

Poin Penting

  • BSI mencatat transaksi emas 4 ton sepanjang 2025, dengan jumlah nasabah emas tumbuh 40 persen, menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi emas.
  • Pada Januari–Februari 2026, transaksi emas BSI sudah mencapai 2,7 ton dan perseroan menargetkan transaksi emas bisa tumbuh dua kali lipat sepanjang 2026.
  • Tabungan emas menjadi motor pertumbuhan nasabah BSI, menyumbang 500 ribu dari total 2 juta nasabah baru pada 2025, sekaligus mendorong peningkatan fee based income hingga 25 persen.

Jakarta – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI mencatatkan pertumbuhan jumlah nasabah emas sebesar 40 persen selama tahun 2025, dengan transaksi emas mencapai 4 ton.

Sementara selama dua bulan pertama di 2026 (Januari-Februari), transaksi emas di Bank Syariah Indonesia sudah mencapai 2,7 ton.

Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), Anggoro Eko Cahyo mengatakan, sebagai pemain baru di ekosistem bulion bank, pertumbuhan tersebut merupakan pencapaian besar.

“Mungkin buat Pegadaian tidak besar, tapi buat kami sangat besar karena kami baru mulainya,” ujar Anggoro pada acara peluncuran roadmap ekosistem bulion nasional di Jakarta, Jumat, 6 Maret 2026.

Baca juga: Transaksi Digital BSI Naik 24 Persen per Ramadan, Siapkan Likuiditas Rp45 T Jelang Lebaran

Targetkan Transaksi Emas Dua Kali Lipat

Melihat pertumbuhan transaksi emas di BSI selama dua bulan pertama itu, pihaknya optimis dapat meningkatkan transaksi emas hingga dua kali lipat di 2026 dibanding tahun sebelumnya.

Dirinya bersyukur dengan diresmikannya Bank Syariah Indonesia sebagai bullion bank pada Februari 2025 karena semakin memudahkan masyarakat untuk berinvestasi emas di tengah kondisi perekonomian global yang masih tak menentu.

“Jadi, kami di BSI spirit-nya, semakin banyak masyarakat yang bisa mengikuti, menikmati kenaikan harga emas. Karena gampang bukanya, jadi itu yang kita dorong,” sebutnya.

Ia lebih jauh mengungkapkan kontribusi pertumbuhan jumlah nasabah emas terhadap total pertumbuhan nasabah BSI. Anggoro mengatakan, sejak BSI berdiri pada 2021, BSI mengalami rata-rata penambahan jumlah nasabah 1,5 juta nasabah baru per tahunnya.

Namun, pada 2025, BSI mencatatkan pertumbuhan nasabah baru sebanyak 2 juta nasabah, dengan 500.000 nasabah di antaranya berasal dari unit tabungan emas.

“Tumbuh kami 2 juta itu tertinggi sejak merger, dan kontributornya adalah dari tabungan emas. Jadi, kami sekarang adalah bank satu-satunya yang punya dual engine. Satu engine bank syariah, satunya lagi engine golden bank,” ucap Anggoro.

Pertumbuhan jumlah nasabah dan transaksi emas di BSI juga mendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi atau fee based income (FBI) BSI menjadi 25 persen, tertinggi di industri.

Kinjera BSI

Secara keseluruhan, kinerja BSI tumbuh solid pada 2025. Aset tumbuh 14 persen menjadi Rp496 triliun, didukung oleh pembiayaan yang juga tumbuh 14 persen dengan didukung dari layanan cicilan emas.

Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) di 2025 tumbuh 16 persen menjadi Rp380 triliun. Menjadikannya pertumbuhan DPK tertinggi sejak BSI berdiri pada 2021.

“Dan menariknya pattern nasabah terhadap emas, berbeda dengan saham. Kalau di saham, harga saham naik, orang profit taking, jual. Tapi di emas, harga emas naik, orang tetap beli terus,” jelasnya.

Ia mengungkapkan pihaknya menyasar segmen market anak muda atau gen Z pada layanan bullion bank ini. Pihaknya ingin anak muda belajar berinvestasi emas sejak dini, dengan mengubah paradigma bahwa investasi emas adalah investasi generasi tua.

Baca juga: BSI Pastikan Stok Emas Aman di Tengah Lonjakan Harga

Terbukti, proporsi nasabah tabungan BSI dari gen Z naik menjadi 32 persen dari sebelumnya 24 persen di 2024.

“Jadi, menurut kami ini bagus untuk literasi bagi anak-anak muda, untuk mulai punya produk-produk yang lebih aman, dan mereka bisa berinvestasi setiap tahun,” imbuh Anggoro.

Tak hanya pertumbuhan jumlah nasabah gen Z, BSI turut mencatatkan pertumbuhan jumlah nasabah non-muslim di BSI yang kini sebesar 15 persen. Meningkat dari 8 persen di 2024.

“Artinya, inklusivitas di Bank Syariah ini menjadi semakin baik. Karena, produk-produknya, termasuk emas, memudahkan kami untuk penetrasi ke non-muslim. Mengingat, emas tak mengenal religi, jadi mudah kita untuk penetrasinya,” tukas Anggoro. (*) Steven Widjaja

Related Posts

News Update

Netizen +62