Poin Penting
- Morgan Stanley mem-PHK sekitar 2.500 orang atau 3 persen tenaga kerja, terutama di divisi investment banking, trading, wealth, dan investment management
- Meski PHK, pendapatan 2025 tercatat tertinggi dalam sejarah, didorong lonjakan 47 persen perbankan investasi dan laba kuartal IV melampaui ekspektasi Wall Street
- PHK sejalan tren efisiensi AS dan adopsi AI, sementara volatilitas pasar meningkatkan aktivitas trading dan strategi perlindungan portofolio klien.
Jakarta – Raksasa perbankan investasi, Morgan Stanley dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 3 persen dari total tenaga kerjanya secara global atau sekitar 2.500 karyawan.
Dinukil Reuters, Kamis (5/3), pemangkasan tenaga kerja ini terjadi di tiga divisi utama perusahaan, yakni investment banking dan trading, wealth management, serta investment management.
Sebagian besar pemangkasan tenaga kerja terjadi pada Rabu (4/3), meski perusahaan telah mulai menyampaikan rencana PHK tersebut sejak pekan lalu.
Laporan Reuters menyebutkan, kebijakan PHK ini merupakan bagian dari strategi perusahaan yang mempertimbangkan kinerja individu sekaligus penyesuaian kebutuhan bisnis.
Baca juga: Separuh Driver Grab Ternyata Eks Korban PHK, Ini Fakta dan Potensi Penghasilannya
Selain itu, pengurangan karyawan didasarkan pada strategi perusahaan dan evaluasi kinerja individu. Di saat yang sama, Morgan Stanley juga berencana menambah tenaga kerja di beberapa area bisnis lainnya yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan.
Sebagai informasi, per 31 Desember, Morgan Stanley tercatat memiliki total tenaga kerja global sebanyak 82.992 orang.
Kinerja Keuangan Tetap Kuat
Menariknya, langkah PHK ini dilakukan meskipun perusahaan mencatat kinerja yang sangat kuat sepanjang 2025. Morgan Stanley membukukan pendapatan tahunan tertinggi dalam sejarah perusahaan.
Selain itu, pada Januari lalu perusahaan juga berhasil melampaui ekspektasi Wall Street untuk laba kuartal keempat.
Kinerja tersebut didorong oleh lonjakan pendapatan perbankan investasi sebesar 47 persen seiring meningkatnya aktivitas transaksi bisnis serta hampir dua kali lipatnya biaya penjaminan utang.
Para eksekutif perusahaan bahkan menyampaikan optimisme terhadap prospek bisnis pada 2026, dengan peluang yang dinilai positif dari aktivitas merger dan akuisisi (M&A) serta penawaran umum perdana (IPO).
Baca juga: Kasus Dugaan PHK Mie Sedaap Didalami Menaker, Ini Perkembangannya
Volatilitas Pasar Dorong Aktivitas Trading
Di sisi lain, kondisi pasar global masih dibayangi volatilitas. Kekhawatiran terhadap dampak kecerdasan buatan terhadap perusahaan teknologi lama serta dinamika geopolitik mendorong klien untuk menyesuaikan portofolio investasi mereka.
Situasi tersebut justru meningkatkan aktivitas di meja perdagangan (trading desk) karena investor berupaya melindungi portofolio dari berbagai risiko pasar.
Tren PHK di Tengah Adopsi AI
Langkah Morgan Stanley terjadi di tengah gelombang pemangkasan tenaga kerja di sejumlah perusahaan Amerika Serikat sejak awal tahun. Banyak perusahaan melakukan efisiensi operasional seiring meningkatnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan.
Pada akhir Februari lalu, perusahaan pembayaran digital Block Inc. yang dipimpin oleh Jack Dorsey juga mengumumkan pemangkasan lebih dari 4.000 karyawan, hampir setengah dari total tenaga kerjanya, sebagai bagian dari transformasi operasional berbasis AI. (*)
Editor: Galih Pratama










