IHSG Berpotensi Lanjut Melemah pada Level 7.350-7.400

IHSG Berpotensi Lanjut Melemah pada Level 7.350-7.400

Poin Penting

  • Phintraco Sekuritas memproyeksi IHSG rawan turun ke 7.350–7.400 jika gagal bertahan di 7.486; peluang double bottom terbuka bila mampu bertahan
  • IHSG anjlok 4,57 persen ke 7.577,06 tertekan eskalasi konflik Timur Tengah dan revisi outlook oleh Fitch Ratings
  • Rupiah melemah ke Rp16.892 per dolar AS; pemerintah siapkan mitigasi pasokan energi lewat Pertamina.

Jakarta – Manajemen Phintraco Sekuritas memproyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini (5/3) berpotensi melanjutkan pelemahannya pada rentang 7.350-7.400, jika tak mampu bertahan di posisi 7.486.

“IHSG sempat melemah hingga level 7.486, mendekati level 7.481 yang pernah disentuh pada akhir Januari 2026 lalu. Jika IHSG mampu bertahan di atas level tersebut berpotensi membentuk pola double bottom. Namun jika IHSG berlanjut melemah, diperkirakan akan menguji level support berikutnya di 7.350-7.400,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, 5 Maret 2026.

Diketahui, IHSG pada perdagangan kemarin ditutup anjlok 4,57 persen ke level 7.577,06. IHSG tertekan akibat sentimen negatif dari meningkatnya intensitas perang di Timur Tengah yang membuat investor global cenderung menghindari aset-aset yang berisiko.

Baca juga: BNI Mau Buyback Saham Rp905,48 Miliar, Minta Restu di RUPST 2026

Selain itu, Fitch Ratings yang menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat Indonesia tetap pada level BBB turut menjadi pemberat IHSG. Sementara rupiah juga ditutup melemah di level Rp16.892 per US Dollar.

Pemerintah pun mulai mengkaji sejumlah langkah antisipasi dalam merespons eskalasi konflik antara Iran dengan AS-Israel, terutama dalam menjaga ketahanan energi. 

Baca juga: Asing Net Sell Rp20,33 Triliun, Saham ANTM, BBRI hingga AADI Paling Banyak Dilego

Eskalasi tersebut akan berdampak langsung terhadap rantai pasokan energi global terutama minyak mentah yang dipasok dari negara-negara Timur Tengah. 

Guna memitigasi risiko pasokan tersebut, pemerintah memastikan sejumlah opsi untuk mendatangkan minyak mentah dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah, yaitu salah satunya dari AS karena Pertamina telah menjalin kesepakatan dengan sejumlah perusahaan energi AS. (*)

Editor: Galih Pratama

Related Posts

News Update

Netizen +62