Poin Penting:
- Iran mengancam menyerang setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz dan mengeklaim telah menutup jalur tersebut.
- Penutupan Selat Hormuz diperkirakan dapat mendorong harga minyak dunia hingga 200 dolar AS per barel.
- Eskalasi konflik Iran versus AS-Israel memicu gangguan pelayaran dan lonjakan biaya asuransi maritim hingga 60 persen.
Jakarta – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian memanas setelah Iran mengancam akan menyerang setiap kapal yang nekat melintasi Selat Hormuz. Ancaman ini disampaikan langsung oleh pejabat militer Iran menyusul eskalasi konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang berdampak langsung pada stabilitas jalur pelayaran strategis tersebut.
Penasihat Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Ibrahim Jabari, Selasa (3/3), menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan kapal mana pun melintasi Selat Hormuz.
“Amerika Serikat serakah akan minyak. Biarkan mereka tahu bahwa kami kini telah menutup Selat Hormuz dan tidak akan mengizinkan kapal-kapal melintasinya,” kata Jabari seperti dikutip oleh Kantor Berita ISNA.
Ancaman Penutupan Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Minyak
Jabari memperkirakan, jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, harga minyak dunia bisa melonjak hingga 200 dolar AS atau sekitar Rp3,3 juta per barel. Kenaikan tersebut dinilai berpotensi menekan perekonomian global, terutama AS sebagai konsumen energi utama.
Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Wilayah pantai utaranya berada di bawah kendali Iran, sedangkan sisi selatan berbatasan dengan Uni Emirat Arab dan Oman. Jalur ini menjadi nadi utama distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Baca juga: Pemerintah Siapkan Evakuasi WNI dari Iran
Serangan Rudal dan Drone di Perairan Strategis
Sebelumnya, pada Minggu (1/3), IRGC menyatakan telah meluncurkan serangan rudal terhadap tiga kapal tanker milik AS dan Inggris di Teluk Persia dan Selat Hormuz. Sehari kemudian, Iran juga mengklaim satu kapal tanker AS di Selat Hormuz dihantam dua drone.
Laporan media berbasis Qatar, Al Jazeera, mengutip sumber pelabuhan Irak yang menyebutkan bahwa biaya pengiriman maritim ke Irak melonjak 60 persen akibat kenaikan tarif asuransi. Situasi ini terjadi setelah meningkatnya risiko keamanan di sekitar Selat Hormuz.
Tujuh kapal tanker minyak dilaporkan tertahan di perairan Irak dan menunggu kepastian dibukanya kembali jalur pelayaran tersebut. Sementara itu, pelabuhan terbesar Irak, Um Qasr, dilaporkan tidak memiliki kapal yang bersandar akibat situasi yang belum kondusif.
Eskalasi Konflik Israel-AS vs Iran
Ketegangan bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan itu dilaporkan menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, gugur dalam serangan tersebut.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah. Eskalasi ini memperbesar risiko konflik terbuka yang berpotensi mengganggu arus perdagangan global, terutama pasokan energi yang melewati Selat Hormuz.
Dengan posisi strategisnya sebagai jalur distribusi energi dunia, setiap gangguan di Selat Hormuz berisiko memicu lonjakan harga minyak, tekanan inflasi global, serta gejolak di pasar keuangan internasional. (*)
Editor: Yulian Saputra










