UOB Sebut Sektor Manufaktur Menjadi Kunci Dongkrak Daya Beli Kelas Menengah

UOB Sebut Sektor Manufaktur Menjadi Kunci Dongkrak Daya Beli Kelas Menengah

Poin Penting

  • UOB menilai sektor manufaktur, terutama padat karya, menjadi kunci untuk meningkatkan daya beli dan memperkuat kelas menengah di tengah tekanan ekonomi.
  • Masalah utama ada pada sisi permintaan (demand side) karena kepercayaan konsumsi kelas menengah melemah, sehingga perlu dorongan kebijakan yang tepat.
  • Porsi kelas menengah terus menyusut hingga diproyeksikan 16,6% pada 2025, padahal kontribusinya mencapai 81,5% terhadap total ekonomi Indonesia.

Jakarta – PT Bank UOB Indonesia (UOB Indonesia) menilai sektor manufaktur menjadi faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus memperkuat daya tahan kelas menengah.

Menurut ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, di tengah kondisi kelas menengah yang terus tertekan, penguatan sektor manufaktur menjadi sangat penting.

“Membuka padat karya di manufaktur, itu kuncinya,” tegas Enrico dalam UOB Media Editors Circle How the Middle Class Thrives in Economics Volatility, di Jakarta, Senin, 2 Maret 2025.

Ia menyarankan pemerintah untuk terus meningkatkan sisi permintaan (demand side) dari sektor manufaktor. Fokus pada sisi suplai memang disebut lebih mudah dilakukan, tapi tidak signifikan menuntaskan persoalan.

Problem di Indonesia dan di seantero dunia adalah demand side. Confidence untuk berkonsumsi, karena pada saat ini yang karya-karya itu sudah mulai tergerus,” tambahnya.

Baca juga: UOB Indonesia dan Ruangguru Gelar Literasi Keuangan dan Coding

Enrico menilai kepercayaan diri kelas menengah untuk konsumsi tengah melemah. Karena itu, sektor manufaktur harus terus didorong sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

Perbaikan manufaktur diyakini dapat meningkatkan kepercayaan diri kelas menengah untuk belanja. Peningkatan daya beli akan menggerakkan ekonomi secara lebih optimal.

Industri padat karya di sektor ini juga berpotensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi tidak hanya lebih tinggi, tetapi juga berkualitas dan berkelanjutan.

Ia menyebut sejumlah sektor manufaktur yang berpotensi menarik investasi asing, antara lain transportasi, pergudangan, logistik, dan pertanian.

“Itu menurut saya lagi hot, itu menurut saya perlu terus ditekankan,” imbuh dia.

Kelas Menengah Terus Menyusut

Untuk sektor pertanian, Enrico menilai potensi penyerapan tenaga kerja cukup besar. Namun, perlu didukung insentif yang tepat, seperti bantuan pupuk, barang modal, serta pemanfaatan mesin dan teknologi.

Para petani juga didorong untuk memanfaatkan waktu senggang usai masa tanam dengan melakukan pekerjaan atau aktivitas lain. Dengan begitu, sambil menunggu masa panen, mereka tetap produktif.

Seperti diketahui, dalam beberapa tahun belakangan, jumlah kelas menengah di Indonesia terus menurun. Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2019 porsi kelas menengah Indonesia mencapai 21,45 persen dari total jumlah penduduk. Porsinya kemudian menurun menjadi 19,82 persen di 2021, turun lagi menjadi 18,06 persen pada 2022.

Porsinya semakin menyusut menjadi 17,44 persen di 2023 dan 17,13 persen pada 2024.

Baca juga: UOB Indonesia dan Ruangguru Gelar Literasi Keuangan dan Coding

Sementara, pada kesempatan sama, Emillya Soesanto, Deposit, Wealth Management and Training Head UoB Indonesia, menyebut jumlah kelas menengah memang terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu.

Pada 2025, porsinya bahkan makin turun ke 16,6 persen atau sekitar 46,7 juta jiwa. Padahal kontribusi kelas menengah terhadap ekonomi nasional tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Kontribusi dari kelas menengah ini sangat besar, termasuk dari sisi konsumsi. Kalau kita lihat, kontribusinya itu 81,5 persen terhadap total ekonomi Indonesia,” jelasnya. (*) Ari Astriawan

Related Posts

News Update

Netizen +62