Poin Penting
- Iran menutup Selat Hormuz dan mengancam serangan terhadap kapal serta pipa minyak, memicu eskalasi konflik dengan AS dan Israel.
- Sekitar 20% pasokan minyak global melewati Selat Hormuz, sehingga penutupan berpotensi mendorong harga minyak hingga USD200 per barel.
- Lonjakan harga minyak berisiko memicu inflasi global, memperketat kondisi keuangan dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia.
Jakarta – Pemerintah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk lalu lintas pelayaran. Pengumuman ini menandai meningkatnya eskalasi perang geopolitik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Penasihat Senior untuk Panglima Tertinggi IRGC Brigadir Jenderal Sardar Ebrahim Jabari mengumumkan penutupan selat tersebut.
“Selat (Hormuz) ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan Angkatan Laut reguler akan membakar kapal-kapal tersebut,” kata Jabari, dinukil laman Al Jazeera, Selasa, 3 Maret 2026.
Selain itu, ia juga mengancam akan menyerang jalur pipa minyak. Bahkan membuat harga minyak melambung tinggi hingga USD 200 per barel, dari harga saat ini.
“Kami juga akan menyerang jalur pipa minyak dan tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah ini. Harga minyak akan mencapai USD200 dalam beberapa hari mendatang,” tegas Jabbari.
Baca juga: BPS Ungkap Nilai Ekspor-Impor RI dengan Negara Jalur Selat Hormuz
“Amerika Serikat, dengan utang miliaran dolar, bergantung pada minyak di kawasan ini, tetapi mereka harus tahu bahwa bahkan setetes minyak pun tidak akan sampai kepada mereka,” tambahnya.
Jalur Vital Energi Dunia
Selat Hormuz berada di antara Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan. Jalur ini menghubungkan Teluk Arab dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Pada titik tersempit, lebarnya sekitar 33 kilometer, dengan jalur pelayaran efektif hanya sekitar 3 kilometer di masing-masing arah.
Menurut data U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz sepanjang 2024. Nilai perdagangan energi yang bergantung pada jalur ini diperkirakan mencapai USD 500 miliar per tahun.
Baca juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Pakar Nilai Impor Minyak AS Jadi Opsi Mitigasi
Minyak tersebut berasal dari Iran, Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Selain minyak mentah, sekitar seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) global juga melewati selat ini, dengan Qatar sebagai pemasok utama.
Sebagian besar pasokan energi itu mengalir ke Asia. EIA mencatat 84 persen pengiriman minyak mentah dan kondensat melalui Selat Hormuz ditujukan ke pasar Asia. China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi tujuan utama.
Imbas Penutupan Selat Hormuz
Pada Senin (2/3), harga minyak merangkak naik di atas USD79,40 per barel, setelah mencapai USD73 per barel pada Jumat di tengah meningkatnya ketegangan menjelang serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu.
“Lalu lintas turun setidaknya 80 persen,” kata Michelle Bockmann, seorang Analis Intelijen Maritim Senior di Windward, kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa industri pelayaran telah bergulat dengan “lonjakan besar” dalam biaya pengiriman untuk rute keluar dari Timur Tengah dan Teluk.
Baca juga: BPS: Emas Alami Inflasi Selama 30 Bulan Berturut-turut
Sementara itu, Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, mengatakan, penutupan Selat Hormuz akan mengganggu sekitar seperlima perdagangan minyak global dalam semalam – dan harga tidak hanya akan melonjak, tetapi akan meroket tajam.
“Guncangan tersebut akan bergema jauh melampaui pasar energi, memperketat kondisi keuangan, memicu inflasi, dan mendorong ekonomi yang rapuh lebih dekat ke resesi dalam hitungan minggu,” ujarnya.
Dampak ke Inflasi Global
Kenaikan harga minyak dinilai akan berdampak luas pada ekonomi global. Ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics, Hamad Hussain, memperkirakan jika harga minyak bertahan di level USD100 per barel, inflasi global bisa naik 0,6 hingga 0,7 persen.
Kondisi itu berpotensi memperlambat pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral, terutama di negara berkembang yang sensitif terhadap gejolak harga komoditas.
Baca juga: Konflik AS-Israel vs Iran Picu Gejolak di Pasar Minyak, Ini Langkah Antisipasi Pemerintah
Hingga kini, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz belum sepenuhnya terhenti. Namun, peningkatan aktivitas militer di kawasan tersebut menandakan risiko eskalasi masih terbuka. Bagi pasar global, stabilitas jalur ini menjadi kunci menjaga pasokan energi dan menahan gejolak harga minyak dunia. (*)
Editor: Yulian Saputra










