Konflik Timur Tengah Memanas, Pakar Nilai Impor Minyak AS Jadi Opsi Mitigasi

Konflik Timur Tengah Memanas, Pakar Nilai Impor Minyak AS Jadi Opsi Mitigasi

Poin Penting

  • Pakar Universitas Padjajaran Yayan Satyakti mengusulkan Indonesia segera impor minyak mentah dari AS untuk kurangi risiko pasokan
  • Jalur Asia Pasifik dinilai lebih aman dibanding Timur Tengah di tengah konflik Israel–Iran
  • Diversifikasi impor penting untuk cegah lonjakan harga minyak dan tekanan pada fiskal serta neraca dagang.

Jakarta – Pakar Energi dari Universitas Padjajaran (Unpad), Yayan Satyakti, mengusulkan agar pemerintah segera mengimpor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) sebagai langkah mitigasi risiko atas memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

“Langkah yang paling konkret, segera eksekusi Trump Deal. Bahwa Indonesia akan mengimpor minyak mentah dari AS,” ujar Yayan dinukil Antara, Senin, 2 Maret 2026.

Ia bilang, kebijakan tersebut dapat mengurangi ketidakpastian pasokan minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini sebagian diimpor dari negara-negara Timur Tengah. 

Menurutnya, eskalasi konflik di kawasan itu berpotensi mengganggu rantai pasok energi global, termasuk bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak.

Baca juga: Gubernur Kaltim Batalkan Pengadaan Mobil Dinas Baru Rp8,49 M, Ini Alasannya

Yayan mengatakan jalur logistik dari AS melalui kawasan Asia Pasifik relatif lebih aman dibandingkan dengan rute pengiriman dari Timur Tengah yang saat ini berada dalam bayang-bayang konflik.

“Kalau menggunakan jalur Asia-Pasifik sepertinya aman, tanpa menggunakan jalur Timur Tengah,” ujarnya.

Eskalasi Ketegangan

Usulan yang dilontarkan Yayan sendiri muncul usai Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). 

Serangan itu disebut sebagai yang kedua pada masa pemerintahan Presiden AS Donald Trump setelah insiden serupa pada Juni 2025.

Baca juga: BPS Ungkap Nilai Ekspor-Impor RI dengan Negara Jalur Selat Hormuz

Trump menyatakan pasukan AS meluncurkan operasi militer besar di Iran untuk melindungi rakyatnya dengan meniadakan ancaman yang, menurutnya, berasal dari dugaan pengembangan senjata nuklir oleh Iran.

Sebelumnya, AS dan Iran telah menggelar tiga putaran perundingan tidak langsung mengenai program nuklir Iran dengan mediasi Oman. 

Putaran pertama dan kedua berlangsung awal bulan ini di Muscat dan Jenewa, dengan fokus pembahasan pada pembatasan pengayaan serta persediaan uranium Iran sebagai imbalan pencabutan sanksi.

Putaran ketiga digelar pada Kamis (26/2/2026) di Jenewa di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Yayan menilai situasi geopolitik tersebut perlu direspons cepat oleh pemerintah Indonesia melalui diversifikasi sumber impor energi.

“Tanpa langkah antisipatif, gangguan pasokan dan lonjakan harga minyak dunia berpotensi membebani neraca perdagangan serta menekan stabilitas fiskal dan energi nasional,” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Related Posts

News Update

Netizen +62