BI: Inflasi Februari 2026 Dipengaruhi Faktor Base Effect

BI: Inflasi Februari 2026 Dipengaruhi Faktor Base Effect

Poin Penting

  • Inflasi Februari 2026 capai 4,76 persen yoy, didorong kenaikan IHK dari 105,48 menjadi 110,50, terutama akibat lonjakan komponen administered prices
  • BI nilai kenaikan lebih karena base effect, mengingat Februari 2025 terjadi deflasi administered prices minus 9,02 persen, sementara tahun ini melonjak 12,64 persen
  • Prospek inflasi tetap terkendali, meski ada tekanan musiman HBKN pada volatile food; BI optimistis inflasi bergerak ke 2,5±1 persen dengan strategi kebijakan 3K.

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Februari 2026 tercatat mencapai  4,76 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Artinya, terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,48 pada Februari 2025 menjadi 110,50 pada Februari 2026.

Menanggapi hal tersebut, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida Suwandi Budiman mengatakan, angka tersebut perlu dibaca secara komprehensif lantaran dipengaruhi komponen administered prices atau harga yang diatur pemerintah.

“Angka 4,76 persen itu karena ada administered prices yang pada Januari dan Februari 2025 mendapatkan diskon harga,” ujar Aida, di Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.

Ia menjelaskan, pada Januari hingga Maret 2025, kelompok administered prices mengalami deflasi cukup dalam. Bahkan pada Februari tahun lalu tercatat minus 9,02 persen. Sementara pada periode yang sama tahun ini, angkanya melonjak menjadi 12,64 persen.

Baca juga: RI Alami Inflasi 0,68 Persen di Februari 2026, Ini Pemicunya

Menurut Aida, lonjakan tersebut lebih merupakan efek basis (base effect) dibandingkan tekanan fundamental yang baru. Jika melihat inflasi inti (core inflation) yang mencerminkan sisi permintaan (demand), angkanya masih terjaga di level 2,63 persen.

“Kalau bicara core inflation yang melihat daripada demand, itu masih cukup terjaga di 2,63 persen. Jadi masih terjaga mengenai inflasi,” jelasnya.

Ia bilang, BI sendiri memperkirakan inflasi masih relatif tinggi pada rilis Februari yang akan diumumkan Maret 2026 mendatang. 

“Setelah itu akan mulai terjaga dengan baik. Sehingga prospek inflasinya adalah 2,5 plus minus 1 persen,” jelasnya.

Pola Musiman Jelang Hari Besar Keagamaan

Sementara itu, dirinya juga menyoroti pola inflasi pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Berdasarkan pola historis, tekanan harga biasanya muncul dalam rentang tiga bulan, yakni satu bulan sebelum (T-1), saat bulan perayaan (T), dan satu bulan setelahnya (T+1).

Baca juga: Inflasi Januari 2026 Tembus 3,55 Persen, BI Sebut Dipengaruhi Faktor Base Effect

Pada periode tersebut, rata-rata inflasi bulanan cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan normal. Kenaikan paling besar umumnya terjadi pada kelompok barang bergejolak (volatile food/VF).

“Dan ini tentunya akibat permintaan yang juga musiman, sehingga mengganggu daripada pasokan yang biasanya cukup menjadi tidak cukup,” bebernya.

Respons Kebijakan 3K

Dalam merespons dinamika inflasi, BI kata Aida menerapkan strategi kebijakan yang disebut 3K. Pertama, kebijakan terintegrasi melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.

Kedua, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah, kementerian dan lembaga (K/L), pelaku usaha, serta media massa.

Ketiga, dilakukan dengan komitmen yang kuat dan konsisten dalam menjaga stabilitas harga serta mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Itu 3K yang menjadi tema kebijakan kami. Jadi, ini adalah bauran kebijakan Bank Indonesia,” pungkasnya.(*)

Editor: Galih Pratama

Related Posts

News Update

Netizen +62