Poin Penting
- Memanasnya konflik Iran-AS-Israel picu risk-off global, berpotensi capital outflow dan tekanan pada rupiah serta IHSG.
- Investor asing sudah keluar Rp18,67 triliun sejak awal tahun, menambah risiko pasar domestik.
- Sektor komoditas (emas, minyak) dan pelayaran berpotensi diuntungkan, tapi strategi investasi harus tetap selektif.
Jakarta – Pengamat Pasar Modal, Elandry Pratama, menyebut memanasnya tensi geopolitik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel telah berkembang menjadi risiko ekonomi global, terutama karena kawasan tersebut merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia.
“Pasar merespons dengan pola risk-off, di mana investor global mengalihkan dana dari aset berisiko ke instrumen safe haven,” ucap Elandry kepada Infobanknews di Jakarta, 2 Maret 2026.
Bagi pasar domestik, kata Elandry, risiko muncul dari potensi capital outflow karena investor asing cenderung mengurangi eksposur emerging markets di tengah ketidakpastian yang meningkat.
“Arus dana keluar ini dapat menekan rupiah dan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan), ditambah risiko inflasi impor akibat kenaikan harga energi yang berpotensi menggerus margin emiten,” imbuhnya.
Baca juga: IHSG Ambruk Imbas Konflik Iran-AS, Bos BEI Bilang Begini
Dalam kondisi tersebut, IHSG berpeluang menguji support 8.133 dan jika mampu ditembus maka area 8.000 menjadi level psikologis berikutnya, dengan resistance di kisaran 8.300.
Outflow Investor Asing
Untuk diketahui, pasar modal Indonesia sejak awal tahun hingga perdagangan Jumat, 27 Februari 2026 masih mencatatkan outflow investor asing senilai Rp18,67 triliun.
Baca juga: Saham-Saham Ini Berpotensi Cuan di Tengah Memanasnya Perang Iran-AS
Adapun, sektor komoditas seperti emas dan minyak, masih berpotensi diuntungkan. Selain komoditas, sektor pelayaran juga berpeluang diuntungkan karena gangguan jalur distribusi membuat kapal harus memutar lebih jauh dan menghadapi risiko lebih tinggi.
Hal itu berdampak pada biaya operasional dan tarif angkut meningkat, yang pada akhirnya dibebankan kepada pelanggan. Namun investor tetap perlu disiplin dan selektif dalam menentukan strategi. (*)
Editor: Galih Pratama










