Poin Penting
- BRI akan menggelar RUPS Tahunan pada 10 April 2026, dengan pemanggilan resmi dilakukan 13 Maret 2026 dan mekanisme e-RUPS tersedia melalui eASY.KSEI
- Pemegang saham tercatat per 12 Maret 2026 berhak hadir, memberikan suara, atau menunjuk kuasa, serta dapat mengajukan mata acara rapat jika memiliki minimal 1/20 saham
- BRI memiliki capital adequacy ratio (CAR) tinggi 23,52 persen sehingga berpotensi memberikan dividend payout ratio lebih besar dari tahun sebelumnya.
Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mengumumkan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (“RUPS”) pada Jumat, 10 April 2026.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dikutip 2 Maret 2026, RUSPT BRI tersebut akan dilaksanakan sesuai ketentuan Anggaran Dasar Perseroan serta regulasi Otoritas Jasa Keuangan terkait RUPS dan e-RUPS.
Manajemen BRI menegaskan, pemanggilan RUPS akan dilakukan melalui situs web Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Bursa Efek Indonesia, dan situs resmi BRI pada Jumat, 13 Maret 2026.
“Pemegang saham yang tercatat pada 12 Maret 2026 pukul 17.00 WIB berhak hadir atau memberikan suara, baik secara langsung maupun melalui kuasa,” tulis manajemen BBRI.
BRI juga menekankan mekanisme e-RUPS melalui sistem eASY.KSEI, memungkinkan pemegang saham memberikan kuasa dan suara secara elektronik.
Pemegang saham yang memiliki minimal 1/20 saham berhak mengajukan mata acara rapat, dengan pengajuan tertulis diterima paling lambat Jumat, 6 Maret 2026.
Sementara kuasa untuk perwakilan pemegang saham dapat diberikan hingga Kamis, 9 April 2026 pukul 12.00 WIB.
Baca juga: Adu Laba BCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI di 2025, Siapa Paling Cuan?
Bocoran Dividen BRI
Sementara dalam pengumuman tersebut, BBRI memang belum membeberkan agenda yang akan dibahas RUPST tahun buku 2025. Hanya saja, berkaca dari pengalaman tahun sebelumnya, RUPST BRI umumnya meminta persetujuan dua agenda penting, yakni perubahan pengurus dan persetujuan pembagian dividen.
Khusus untuk pembagian dividen, Direktur Utama BRI Hery Gunardi sempat membocorkan rasio pembagian dividen perseroan tahun buku 2025 dalam konferensi pers Kinerja 2025, Kamis, 26 Februari 2026.
Menurut Hery, penetapan besaran rasio dividen akan disesuaikan dengan berbagai aspek, seperti kondisi struktur permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) perseroan, termasuk strategi pertumbuhan yang diarahkan untuk menopang keberlanjutan bisnis ke depan.
“Jadi pada saat ini kondisi permodalan BRI sangat memadai, sangat kuat gitu. Sebagaimana tadi disampaikan bahwa CAR kita berada di sekitar 23,52 persen. Angka ini sangat jauh, sangat tinggi dibandingkan dengan apa yang dipersyaratkan oleh regulator,” jelas Hery.
Dengan kondisi tersebut, Hery menyatakan BRI memiliki ruang untuk memberikan dividend payout ratio yang lebih tinggi dari capaian historis sebelumnya.
“Mempertimbangkan kondisi tersebut, seyogyanya kami memiliki ruang untuk memberikan dividen dengan payout ratio yang lebih tinggi dibandingkan dengan level histori yang selama ini ada,” ungkapnya.
Sebagai gambaran, untuk tahun buku 2024, BRI membagikan total dividen tunai yang dibagikan sebesar-besarnya Rp51,73 triliun atau Rp343,40 per saham. Angka tersebut sudah termasuk dividen interim sebesar Rp135 per saham atau setara Rp20,33 triliun.
Baca juga: Respons BRI soal Perpanjangan Dana SAL Pemerintah di Himbara
Kinerja BRI Sepanjang 2025
Sepanjang 2025, BRI mampu mencetak mencetak laba bersih secara kondolidasi sebesar Rp57,13 triliun. Capaian laba tersebut menurun 5,26 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp60,30 triliun.
Kinerja kredit BRI masih tumbuh solid. Tercatat kredit BRI secara konsolidasi naik 12,31 persen yoy menjadi Rp1.521,49 triliun pada 2025. Kinerja intermediasi lainnya juga solid. Dana pihak ketiga (DPK) bank yang fokus pada UMKM ini tercatat sebesar Rp1.466,84 triliun di sepanjang 2025.
Adapun, komposisi dana murah atau current account saving account (CASA) mencapai 70,61 persen.
Dari sisi profitabilitas, pendapatan bunga BRI tercatat meningat sebesar 4,27 persen atau menjadi Rp207,78 triliun. Beban bunga juga mengalami peningkatan tipis sebesar 1,2 persen menjadi Rp57,28 triliun. Sehingga, pendapatan bunga bersih menjadi Rp150,5 triliun di akhir tahun 2025.
Menutup 2025, total aset BRI mengalami kenaikan 7,1 persen yoy menjadi Rp2.135,37 triliun. Sebagai pembanding, total aset BRI pada 2024 sebesar Rp1.992,18 triliun. (*)










